DTC Netconnect logo

Tren Pembangunan Green Data Center di Asia Tenggara dan Peran Indonesia di Dalamnya

Data Center Solution

Nov 12, 2025

Menuju Era Pusat Data yang Ramah Lingkungan

Beberapa tahun terakhir, istilah green data center menjadi sorotan utama di dunia teknologi. Bukan hanya sekadar tren, melainkan kebutuhan nyata di tengah meningkatnya konsumsi energi global akibat pertumbuhan digital dan kecerdasan buatan.

Asia Tenggara, yang kini menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi digital dunia, menghadapi tantangan besar: bagaimana membangun data center berkapasitas besar tanpa meningkatkan jejak karbon secara signifikan. Di sinilah konsep green data center menjadi solusi.

Di antara negara-negara di kawasan ini, Indonesia mulai menonjol. Dengan pertumbuhan ekonomi digital yang sangat cepat dan meningkatnya kebutuhan layanan cloud, AI, serta komputasi skala besar, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain penting dalam transformasi menuju infrastruktur digital hijau.


Mengapa Green Data Center Menjadi Penting

Data center adalah “otak” dari dunia digital. Semua aktivitas online — mulai dari e-commerce, media sosial, video streaming, hingga sistem AI — bergantung pada ribuan server yang beroperasi tanpa henti. Namun, di balik kenyamanan digital ini, ada tantangan besar: energi dan panas.

Secara global, sektor data center diperkirakan menyumbang 1–2% dari total konsumsi listrik dunia, dan angka ini terus meningkat seiring pertumbuhan AI dan komputasi awan. Sumber daya energi konvensional berbasis fosil tidak lagi cukup efisien, apalagi ramah lingkungan. Karena itu, banyak negara dan perusahaan teknologi mulai beralih ke konsep green data center, yakni pusat data yang dirancang untuk menghemat energi, meminimalkan emisi karbon, dan menggunakan energi terbarukan.

Tujuannya bukan hanya untuk menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi operasional. Dengan menekan konsumsi listrik dan biaya pendinginan, perusahaan dapat menghemat pengeluaran jangka panjang sekaligus memenuhi standar global keberlanjutan (sustainability).


Perkembangan Green Data Center di Asia Tenggara

Wilayah Asia Tenggara menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat dalam pembangunan data center global. Negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Indonesia berlomba membangun infrastruktur digital untuk memenuhi kebutuhan ekonomi digital yang terus meluas.

Namun, ada tantangan yang sama di semua negara: energi dan lahan. Singapura, misalnya, sempat memberlakukan moratorium pembangunan data center baru karena konsumsi energinya terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan target emisi karbon nasional.

Sebagai tanggapan, perusahaan teknologi mulai berinovasi dengan konsep green data center — fasilitas yang efisien energi, menggunakan pendinginan cerdas, dan didukung sumber daya terbarukan seperti tenaga surya, angin, atau biomassa.

Indonesia pun melihat peluang besar di sini. Dengan ketersediaan lahan luas, sumber energi terbarukan melimpah, serta posisi geografis strategis di tengah Asia Tenggara, Indonesia mulai diincar sebagai lokasi baru untuk ekspansi data center berkelanjutan.


Peran Strategis Indonesia dalam Ekosistem Green Data Center

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan data center ramah lingkungan. Ada beberapa faktor yang menjadikannya lokasi menarik bagi investasi jangka panjang di sektor ini.

Pertama, permintaan lokal yang tinggi. Populasi digital Indonesia mencapai lebih dari 200 juta pengguna internet aktif. Pertumbuhan e-commerce, game online, fintech, dan layanan cloud mendorong permintaan masif terhadap infrastruktur penyimpanan dan pemrosesan data.

Kedua, dukungan pemerintah terhadap ekonomi digital. Melalui inisiatif seperti Making Indonesia 4.0 dan Indonesia Digital Roadmap 2021–2024, pemerintah menargetkan digitalisasi industri dan pelayanan publik secara menyeluruh. Hal ini membuka peluang besar untuk membangun data center domestik yang efisien dan terintegrasi.

Ketiga, potensi energi terbarukan. Indonesia memiliki sumber daya energi bersih seperti tenaga air, panas bumi, dan surya yang dapat digunakan untuk menggerakkan sistem data center. Beberapa proyek percontohan di Jawa Barat dan Kalimantan sudah mulai memanfaatkan PLTS atap dan sistem cooling alami untuk menekan penggunaan energi fosil.

Selain itu, lokasi Indonesia yang relatif stabil secara politik dan berada di jalur konektivitas kabel laut internasional juga membuatnya ideal untuk menjadi pusat data regional, seperti yang kini sedang dikembangkan di kawasan Batam, Bekasi, dan Cikarang.


Teknologi Pendukung Green Data Center

Transformasi menuju data center ramah lingkungan tidak hanya soal mengganti sumber energi, tetapi juga melibatkan inovasi teknologi dalam desain dan operasionalnya.
Beberapa teknologi penting yang menjadi pilar utama di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara antara lain:

1. Sistem Pendinginan Hemat Energi

Pendinginan menjadi tantangan utama di iklim tropis seperti Indonesia. Teknologi pendinginan cair (liquid cooling) dan sistem free cooling yang memanfaatkan udara luar digunakan untuk mengurangi beban energi AC.
Desain in-row cooling dan hot aisle containment juga membantu mengatur sirkulasi udara secara efisien sehingga suhu ruangan tetap optimal tanpa mengonsumsi listrik berlebih.

2. Penggunaan Energi Terbarukan

Banyak operator data center mulai berinvestasi pada panel surya dan pembelian energi hijau dari PLN melalui program Renewable Energy Certificate (REC). Hal ini memungkinkan mereka mengoperasikan pusat data dengan emisi karbon lebih rendah sekaligus menghemat biaya listrik jangka panjang.

3. Pemantauan Energi Berbasis AI

Sistem DCIM (Data Center Infrastructure Management) berbasis AI kini banyak diimplementasikan untuk mengoptimalkan penggunaan daya dan pendinginan. Teknologi ini memantau beban kerja, suhu, kelembapan, dan distribusi daya secara real-time, kemudian menyesuaikannya secara otomatis untuk mencapai efisiensi maksimal.

4. Desain Modular dan Fleksibel

Konsep modular data center memungkinkan ekspansi bertahap sesuai kebutuhan, tanpa membuang energi atau ruang yang belum digunakan. Model ini juga mendukung efisiensi pembangunan serta mudah disesuaikan dengan standar green computing.


Dampak Ekonomi dan Keberlanjutan

Pembangunan green data center bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberi keuntungan ekonomijangka panjang.
Data center yang hemat energi dapat menekan biaya operasional (OPEX) hingga 30–40% dibanding model konvensional. Dalam skala besar, efisiensi ini berarti penghematan jutaan dolar per tahun.

Selain itu, perusahaan yang mengoperasikan green data center memiliki daya tarik lebih besar di pasar global, karena banyak korporasi multinasional kini hanya ingin bermitra dengan penyedia layanan yang memiliki komitmen terhadap sustainability.

Bagi Indonesia, peningkatan jumlah data center hijau juga berarti penyerapan tenaga kerja berkeahlian tinggi di bidang teknik, energi, dan teknologi informasi, serta peningkatan daya saing ekonomi digital nasional.


Kolaborasi Pemerintah dan Swasta

Untuk mencapai transformasi menuju green data center, kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi hal penting.
Pemerintah dapat berperan dengan memberikan insentif pajakkemudahan izin energi terbarukan, serta standar sertifikasi efisiensi energi nasional.

Sementara pihak swasta, terutama operator data center seperti DCI Indonesia, EDGE DC, dan Biznet Data Center, dapat berkontribusi melalui investasi teknologi efisien dan berbagi pengetahuan dengan mitra internasional.

Kerja sama lintas sektor ini akan mempercepat lahirnya ekosistem infrastruktur digital berkelanjutan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga melayani kawasan Asia Tenggara.


Masa Depan Green Data Center di Indonesia

Dalam 5–10 tahun ke depan, tren pembangunan green data center di Indonesia akan semakin kuat. Peningkatan adopsi AI dan Internet of Things (IoT) akan mendorong permintaan kapasitas data yang lebih besar, sehingga efisiensi energi menjadi kunci utama.

Beberapa arah pengembangan yang sudah mulai terlihat antara lain:

  • Integrasi AI predictive cooling untuk mengatur suhu secara otomatis.

  • Pemanfaatan energi hybrid (gabungan listrik konvensional dan terbarukan).

  • Penerapan konsep zero-carbon data center yang mengimbangi emisi dengan proyek penghijauan.

Dengan meningkatnya kesadaran global terhadap isu lingkungan, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat data berkelanjutan di Asia Tenggara, bersaing dengan Singapura dan Malaysia yang kini menghadapi keterbatasan lahan dan kebijakan energi ketat.


Menuju Ekosistem Digital yang Hijau dan Efisien

Green data center bukan lagi konsep masa depan — ia adalah kebutuhan masa kini. Dunia digital tidak dapat terus berkembang dengan model konsumsi energi lama yang boros dan tidak efisien.

Indonesia memiliki semua elemen untuk menjadi pemain utama: sumber energi terbarukan, pertumbuhan ekonomi digital yang cepat, serta dukungan teknologi yang semakin canggih.
Melalui kolaborasi pemerintah, swasta, dan komunitas teknologi, pembangunan green data center dapat menjadi tonggak penting dalam mewujudkan ekonomi digital berkelanjutan yang efisien, tangguh, dan ramah lingkungan.

Masa depan infrastruktur digital Indonesia akan ditentukan oleh seberapa bijak bangsa ini mengelola energi — bukan hanya untuk daya komputasi, tetapi juga untuk keberlanjutan kehidupan di planet ini.