Menghitung Biaya Operasional Data Center di Indonesia: Tantangan dan Solusi Modern
Nov 11, 2025
Di Balik Kilau Dunia Digital
Setiap kali kita membuka aplikasi, mengunggah file ke cloud, atau menonton video streaming, sebenarnya ada ribuan server yang bekerja tanpa henti di balik layar. Semua itu terjadi di dalam sebuah data center — infrastruktur besar yang menjadi tulang punggung dunia digital. Namun, di balik kecanggihannya, ada satu hal yang selalu menjadi perhatian utama: biaya operasional (OPEX).
Menjalankan data center bukanlah hal murah. Mulai dari kebutuhan daya listrik, pendinginan, jaringan, hingga perawatan perangkat — semua memerlukan investasi berkelanjutan yang nilainya bisa mencapai miliaran rupiah per bulan, tergantung pada kapasitas dan teknologi yang digunakan.
Di Indonesia, dengan iklim tropis yang cenderung panas dan tingkat pertumbuhan digital yang tinggi, tantangan biaya operasional menjadi lebih kompleks. Maka, memahami bagaimana biaya ini dihitung dan bagaimana teknologi dapat menekannya menjadi langkah penting bagi perusahaan yang ingin masuk ke ranah digital secara efisien.
Komponen Utama dalam Biaya Operasional Data Center
Untuk memahami biaya operasional data center, kita perlu melihat komponen terbesar penyusunnya. Secara umum, biaya operasional terbagi menjadi tiga bagian utama: energi listrik, pendinginan, dan pemeliharaan infrastruktur.
1. Energi Listrik
Biaya listrik adalah komponen terbesar yang dapat mencapai hingga 40–60% dari total biaya operasional. Semua perangkat di data center — server, storage, router, switch, hingga sistem pencahayaan dan keamanan — membutuhkan pasokan daya yang stabil dan besar.
Di Indonesia, harga listrik industri memang relatif kompetitif dibanding beberapa negara tetangga, namun konsumsi daya yang tinggi dari GPU dan CPU kelas AI membuat biaya ini tetap menjadi beban utama. Untuk menekan biaya, operator data center biasanya memantau rasio efisiensi energi menggunakan indikator PUE (Power Usage Effectiveness).
Semakin mendekati angka 1.0, semakin efisien sebuah data center.
2. Sistem Pendinginan
Server yang bekerja terus-menerus menghasilkan panas tinggi. Karena itu, sistem pendinginan menjadi kebutuhan mutlak. Dalam kondisi iklim tropis seperti di Jakarta atau Surabaya, suhu lingkungan luar yang bisa mencapai lebih dari 35°C membuat sistem pendinginan bekerja lebih keras.
Teknologi in-row cooling dan liquid cooling kini mulai banyak diadopsi untuk menekan penggunaan daya AC konvensional. Pendinginan cair, misalnya, mampu menghemat energi hingga 40% dibanding pendinginan udara. Selain itu, sistem ini juga memperpanjang umur server dengan menjaga suhu tetap stabil.
3. Pemeliharaan dan Manajemen
Biaya lain datang dari kegiatan pemeliharaan rutin, penggantian perangkat, serta pengelolaan sistem keamanan fisik dan digital. Semakin besar kapasitas data center, semakin besar pula biaya untuk sumber daya manusia (SDM) yang mengoperasikannya.
Namun kini, banyak pusat data modern menggunakan sistem DCIM (Data Center Infrastructure Management)berbasis AI untuk memantau semua aspek operasional secara otomatis. Dengan automasi, kebutuhan tenaga teknis berkurang, efisiensi meningkat, dan potensi gangguan dapat diantisipasi lebih cepat.
Faktor Iklim dan Lokasi: Tantangan Khas Indonesia
Salah satu tantangan besar dalam membangun dan mengoperasikan data center di Indonesia adalah kondisi geografis dan iklim tropis. Suhu udara yang tinggi sepanjang tahun serta kelembapan yang bisa mencapai 80% membuat sistem pendinginan bekerja dua kali lebih keras dibanding negara beriklim sedang seperti Jepang atau Jerman.
Selain itu, Indonesia berada di kawasan rawan gempa, yang berarti desain infrastruktur harus memperhitungkan daya tahan seismik dan cadangan sistem daya ganda (redundant power system). Semua faktor tambahan ini berpengaruh langsung terhadap biaya pembangunan dan operasional.
Tidak heran jika biaya OPEX per kWh per rak server di Indonesia bisa lebih tinggi dibandingkan beberapa negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia. Meski begitu, potensi pasar digital yang besar membuat investasi tetap mengalir, terutama karena kebutuhan data lokal yang terus meningkat.
PUE: Indikator Penting Efisiensi Energi
Konsep PUE (Power Usage Effectiveness) menjadi salah satu parameter utama dalam menilai efisiensi sebuah data center. PUE dihitung dengan rumus:
PUE=TotalEnergiyangDigunakanDataCenterEnergiyangDigunakanServerIT
Misalnya, jika sebuah data center menggunakan total daya 2 MW dan server IT-nya mengonsumsi 1 MW, maka nilai PUE-nya adalah 2.0. Artinya, untuk setiap 1 watt daya komputasi, dibutuhkan tambahan 1 watt lagi untuk pendinginan dan sistem pendukung.
Target ideal bagi pusat data modern adalah PUE antara 1.1 hingga 1.4, yang berarti efisiensi energi sangat tinggi.
Data center lama umumnya masih memiliki PUE di kisaran 2.0 atau lebih, menandakan banyak energi terbuang untuk pendinginan yang kurang efisien.
Beberapa operator data center di Indonesia seperti DCI Indonesia, EDGE DC, dan Biznet Data Center telah berhasil menurunkan PUE mereka dengan mengadopsi sistem pendinginan pintar, desain airflow optimal, serta penggunaan energi terbarukan.
Teknologi untuk Menekan Biaya Operasional
Seiring perkembangan teknologi, banyak inovasi yang dirancang khusus untuk menekan biaya operasional tanpa mengorbankan performa. Berikut beberapa pendekatan yang kini mulai diterapkan di Indonesia dan global.
Pendinginan Cair (Liquid Cooling)
Teknologi pendinginan cair — khususnya direct-to-chip cooling — menjadi solusi utama untuk server AI dan GPU modern. Cairan pendingin mengalir langsung ke chip CPU dan GPU, menyerap panas secara langsung, sehingga AC ruangan dapat dikurangi secara drastis.
Hasilnya, biaya energi turun, dan sistem menjadi lebih senyap serta stabil.
Beberapa data center AI di Asia mulai melaporkan penghematan hingga 60% energi pendinginan, serta penurunan PUE hingga 1.2 setelah beralih ke teknologi ini.
AI Monitoring dan DCIM
Sistem monitoring berbasis AI membantu operator mengoptimalkan penggunaan energi secara real-time. AI dapat memprediksi beban kerja, menyesuaikan kecepatan kipas pendingin, atau bahkan mematikan perangkat yang tidak aktif.
Teknologi DCIM (Data Center Infrastructure Management) seperti Bisoft DCIM Monitoring dari DTC Netconnect, misalnya, sudah mendukung pemantauan suhu, kelembapan, dan konsumsi daya hingga ke tingkat rak server.
Dengan automasi cerdas, biaya operasional menurun karena gangguan dapat diantisipasi lebih cepat, dan efisiensi energi meningkat tanpa perlu campur tangan manual berlebihan.
Energi Terbarukan
Penggunaan panel surya, PLTS atap, atau energi biomassa kini mulai dipertimbangkan oleh beberapa operator data center Indonesia. Meski investasi awalnya besar, dalam jangka panjang energi terbarukan mampu menekan biaya operasional secara signifikan, terutama ketika harga listrik dari jaringan umum naik.
Selain hemat biaya, penggunaan energi bersih juga meningkatkan citra keberlanjutan (sustainability), yang menjadi nilai penting bagi perusahaan global.
Efisiensi Ruang dan Desain Modular
Selain efisiensi energi, efisiensi ruang juga berpengaruh besar terhadap biaya operasional.
Pendekatan modular data center kini banyak diterapkan, di mana ruang server dibangun dalam modul terpisah yang bisa diperluas sesuai kebutuhan.
Desain modular ini memungkinkan operator hanya mengaktifkan modul yang sedang digunakan, sehingga sistem pendinginan dan listrik tidak bekerja penuh ketika kapasitas belum terpakai seluruhnya. Dalam jangka panjang, pendekatan ini menghemat biaya hingga puluhan persen dan memberikan fleksibilitas dalam ekspansi.
Studi Kasus: Efisiensi Energi Data Center Modern
Sebagai ilustrasi, mari kita lihat perbandingan sederhana antara dua jenis data center: konvensional dan modern berbasis AI.
-
Data Center Konvensional:
-
Menggunakan AC udara sentral.
-
PUE rata-rata 2.0.
-
Energi 50% terserap untuk pendinginan.
-
Downtime lebih sering karena maintenance manual.
-
-
Data Center Modern Berbasis AI:
-
Menggunakan direct-to-chip cooling.
-
PUE mencapai 1.25.
-
Energi pendinginan hanya 25% dari total.
-
DCIM AI memprediksi kerusakan lebih awal.
-
Dari perbandingan di atas, efisiensi energi meningkat hingga 40%, sementara downtime turun hingga 60%. Meski investasi awal lebih besar, total cost of ownership (TCO) menjadi jauh lebih rendah dalam jangka 5 tahun.
Masa Depan Biaya Operasional Data Center di Indonesia
Dengan semakin tingginya adopsi AI, kebutuhan akan GPU server dan sistem berdaya tinggi akan terus meningkat. Artinya, konsumsi energi akan bertambah, dan begitu pula tekanan terhadap biaya operasional. Namun di sisi lain, teknologi baru terus bermunculan untuk menyeimbangkan hal ini.
Inovasi seperti free cooling (pendinginan alami dengan udara luar), AI-driven power optimization, dan microgrid energy systems sedang dieksplorasi di banyak negara. Indonesia pun berpotensi besar memanfaatkan teknologi ini, terutama di wilayah dengan kondisi udara yang lebih sejuk seperti Jawa Barat atau Sulawesi Utara.
Ke depan, kolaborasi antara penyedia infrastruktur, pemerintah, dan lembaga riset akan menjadi kunci dalam menciptakan data center efisien yang ramah energi dan kompetitif secara global.
Efisiensi Adalah Kunci Keberlanjutan
Biaya operasional adalah jantung dari strategi keberlanjutan data center. Semakin efisien sebuah pusat data mengelola energi, pendinginan, dan sumber daya manusianya, semakin besar peluangnya untuk bertahan dan berkembang di era digital.
Bagi Indonesia, langkah menuju efisiensi bukan sekadar soal menekan angka pengeluaran, tetapi juga tentang membangun infrastruktur digital yang tangguh dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan teknologi pendinginan cair, AI monitoring, serta sumber energi terbarukan, operator data center dapat mencapai keseimbangan ideal antara performa dan biaya.
Pada akhirnya, masa depan data center Indonesia bergantung pada satu prinsip sederhana: kecerdasan bukan hanya tentang mesin yang berpikir, tetapi juga tentang bagaimana kita mengelola energi, sumber daya, dan keberlanjutan dengan bijak.

