Pertumbuhan data center di Indonesia sedang memasuki fase ekspansi yang sangat cepat. Dorongan digitalisasi, meningkatnya kebutuhan cloud storage, serta hadirnya pemain global menjadikan berbagai kota dan kawasan industri menjadi target pembangunan fasilitas teknologi tersebut. Walaupun perkembangan ini memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi digital, ada satu aspek lingkungan yang sering kali mendapat perhatian khusus: perubahan tata ruang dan penggunaan lahan di daerah yang menjadi lokasi pembangunan data center.
Berbeda dengan isu konsumsi energi atau penggunaan air, dampak terhadap lahan sering kali tidak langsung terlihat. Perubahan tata ruang bersifat bertahap dan mampu mengubah struktur sosial, ekonomi, dan lingkungan secara perlahan. Namun, begitu dampaknya muncul, perubahannya dapat berlangsung permanen dan memengaruhi banyak sektor dalam jangka waktu panjang.
Artikel ini akan membahas bagaimana pembangunan data center dapat mengubah pola penggunaan lahan, memengaruhi struktur ruang daerah, hingga menimbulkan tekanan baru terhadap ekosistem setempat.
Data Center dan Kebutuhan Lahan yang Semakin Besar
Walaupun data center identik dengan teknologi digital, fasilitas ini tetap memerlukan lahan fisik yang cukup luas untuk dibangun. Untuk fasilitas hyperscale yang biasanya digunakan perusahaan global, kebutuhan lahannya dapat mencapai puluhan hektare. Hal ini mencakup area gedung utama, infrastruktur kelistrikan, ruang generator, sistem pendinginan, menara komunikasi, hingga ruang untuk ekspansi di masa depan.
Ketika pembangunan dilakukan di daerah yang belum memiliki rencana tata ruang jangka panjang untuk fasilitas teknologi besar, proses alokasi lahan menjadi tantangan tersendiri. Banyak wilayah akhirnya mengalihfungsikan lahan pertanian, ruang hijau, atau area perumahan menjadi kawasan industri digital. Perubahan inilah yang sering memunculkan dampak lingkungan dan sosial yang tidak terhindarkan.
Perubahan Fungsi Lahan dan Dampaknya Terhadap Lingkungan
Salah satu konsekuensi terbesar dari pembangunan data center adalah alih fungsi lahan. Lahan-lahan yang sebelumnya digunakan untuk pertanian, konservasi, atau ruang terbuka hijau berubah menjadi area industri dengan bangunan besar yang membutuhkan infrastruktur berat.
Dalam jangka panjang, alih fungsi lahan ini dapat menimbulkan beberapa dampak:
1. Berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Ruang terbuka hijau memiliki peran penting bagi keseimbangan lingkungan. Ketika area tersebut digantikan oleh bangunan besar yang beroperasi selama 24 jam, suhu permukaan tanah meningkat dan ekosistem mikro di daerah tersebut terganggu.
2. Penurunan Daya Serap Air Tanah
Lahan yang disemen atau dibeton tidak lagi mampu menyerap air hujan secara optimal. Hal ini meningkatkan potensi banjir, terutama di daerah yang sebelumnya memiliki fungsi resapan air alami.
3. Fragmentasi Habitat
Pembangunan data center dapat membelah habitat hewan dan tumbuhan lokal, membuat mereka kehilangan ruang untuk berkembang. Meski sering kali tidak terlihat, efeknya dapat merusak biodiversitas daerah tersebut.
Tekanan Baru Terhadap Infrastruktur Daerah
Transformasi tata ruang akibat pembangunan data center tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga memberi tekanan baru terhadap berbagai infrastruktur kawasan.
Data center membutuhkan akses listrik dalam kapasitas besar. Karena itu, area pembangunan sering kali memerlukan peningkatan jaringan listrik, gardu tambahan, serta jaringan transmisi baru. Infrastruktur jalan juga menjadi perhatian, karena mobilitas konstruksi dan operasional data center membutuhkan akses yang lebih kuat.
Jika perencanaan dilakukan tanpa aspek mitigasi, masyarakat lokal dapat mengalami dampak berupa peningkatan kemacetan, perubahan pergerakan lalu lintas, hingga berkurangnya kualitas hidup karena bising dan aktivitas kendaraan berat.
Perubahan Pola Sosial dan Ekonomi Masyarakat Sekitar
Sekilas, kehadiran data center memang terlihat seperti peluang ekonomi yang besar. Namun perubahan tata ruang yang terjadi sering kali memiliki dua sisi. Di satu sisi, pembangunan data center membawa investasi, menciptakan lapangan pekerjaan, serta meningkatkan nilai properti. Namun di sisi lain, perubahan lahan dapat memengaruhi identitas sosial dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Misalnya, daerah yang semula merupakan kawasan pertanian berubah menjadi kawasan industri digital. Petani yang kehilangan lahan menghadapi tantangan mencari pekerjaan baru. Selain itu, perubahan fungsi lahan bisa memicu kenaikan harga tanah, yang mengakibatkan masyarakat asli tertekan secara ekonomi dan kesulitan mempertahankan tempat tinggal mereka.
Dalam beberapa kasus di negara lain, pembangunan data center skala besar menyebabkan perpindahan penduduk atau gentrifikasi kawasan, di mana masyarakat berpenghasilan rendah secara perlahan tersingkir karena meningkatnya biaya hidup di daerah tersebut.
Lonjakan Suhu Mikro dan Perubahan Iklim Lokal
Perubahan tata ruang tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga pada iklim mikro wilayah. Data center merupakan bangunan dengan mesin berdaya tinggi yang menghasilkan panas secara terus-menerus. Meskipun sistem pendinginan digunakan, panas tetap dilepaskan ke lingkungan sekitar.
Ketika lahan hijau diganti dengan beton, dan ketika panas dari mesin bertambah setiap hari, lingkungan sekitar dapat mengalami peningkatan suhu. Fenomena ini dikenal sebagai heat island effect, di mana daerah industri memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya yang masih alami.
Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat memperburuk kenyamanan termal, meningkatkan kebutuhan energi rumah tangga untuk pendinginan, serta mempercepat perubahan pola cuaca lokal.
Tekanan Terhadap Ruang Hidup dan Ketidakseimbangan Tata Ruang
Pembangunan data center yang tidak diatur dengan baik dapat menyebabkan ketidakseimbangan tata ruang. Misalnya:
-
kawasan hunian bercampur dengan kawasan industri,
-
area konservasi berubah menjadi area konstruksi,
-
fungsi ruang publik berkurang,
-
kawasan resapan air digantikan bangunan besar,
-
daerah semakin padat dengan infrastruktur berat.
Tata ruang yang tidak seimbang membuat suatu daerah lebih rentan terhadap bencana seperti banjir, kekeringan, atau penurunan kualitas udara.
Tantangan Regulasi Tata Ruang di Indonesia
Salah satu penyebab utama terjadinya ketidakseimbangan tata ruang adalah kurangnya regulasi spesifik mengenai pembangunan data center. Meskipun ada aturan umum mengenai tata ruang wilayah (RTRW), industri data center merupakan kategori baru yang belum sepenuhnya diatur secara teknis dalam konteks dampak jangka panjang.
Beberapa tantangan regulasi yang masih sering muncul meliputi:
-
belum adanya standar khusus mengenai kebutuhan lahan untuk data center,
-
belum adanya persyaratan zonasi khusus,
-
lemahnya pengawasan alih fungsi lahan,
-
belum adanya standar lingkungan terkait suhu mikro dan ruang hijau kompensasi,
-
belum optimalnya pelaporan dampak tata ruang dalam AMDAL.
Menuju Tata Ruang yang Berkelanjutan untuk Industri Data Center
Untuk mengurangi dampak terhadap perubahan tata ruang, beberapa upaya penting dapat dilakukan:
-
Menetapkan kawasan khusus data center, sehingga pembangunan tidak mengganggu lahan produktif atau kawasan konservasi.
-
Menerapkan konsep green data center, termasuk ruang hijau kompensasi, vegetasi filter panas, dan desain yang ramah lingkungan.
-
Pemetaan ulang RTRW daerah agar mampu menampung ekspansi industri digital tanpa mengorbankan keseimbangan lingkungan.
-
Melibatkan masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan sehingga transisi ruang dilakukan secara adil.
-
Mewajibkan analisis tata ruang yang lebih mendalam sebelum izin pembangunan diberikan.
Kesimpulan
Pembangunan data center tidak hanya berdampak pada energi, air, atau emisi, tetapi juga membawa perubahan besar pada tata ruang dan struktur lahan suatu daerah. Ketika pembangunan dilakukan secara masif tanpa perencanaan matang, alih fungsi lahan dapat mengurangi ruang hijau, mengganggu ekosistem, mempersempit ruang hidup masyarakat, serta mengubah kondisi iklim mikro.
Namun, jika dikelola dengan pendekatan berkelanjutan, data center tetap dapat dibangun tanpa merusak keseimbangan lingkungan. Perencanaan tata ruang, zonasi yang tepat, komitmen perusahaan terhadap desain hijau, serta regulasi pemerintah yang kuat menjadi kunci dalam memastikan pembangunan data center tetap mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan keberlanjutan wilayah.

