DTC Netconnect logo

Dampak Pembangunan Data Center Terhadap Emisi Karbon dan Kualitas Udara di Suatu Daerah

Data Center Solution

Nov 27, 2025

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan industri data center di Indonesia meningkat sangat pesat. Hal ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi digital, perluasan layanan cloud global, tingginya konsumsi internet, dan percepatan transformasi digital oleh sektor publik maupun swasta. Namun, di balik perkembangan yang terlihat sangat positif bagi perekonomian, terdapat satu persoalan besar yang semakin sering dibicarakan di tingkat global: dampak data center terhadap emisi karbon dan kualitas udara.

Data center merupakan fasilitas fisik yang berisi ribuan hingga puluhan ribu server yang selalu aktif selama 24 jam. Aktivitas komputasi yang masif ini membutuhkan energi dalam jumlah yang sangat besar. Di beberapa negara maju, data center bahkan menyumbang 1% hingga 3% dari total konsumsi listrik nasional. Ketika sebagian besar listrik masih bersumber dari energi fosil, seperti batu bara atau gas alam, maka data center secara langsung berkontribusi pada meningkatnya emisi karbon di udara.

Di Indonesia, kondisi ini menjadi semakin kompleks karena sebagian besar energi listrik nasional masih berasal dari PLTU berbahan bakar batu bara. Dampaknya, setiap pembangunan data center baru berpotensi memperbesar jejak karbon daerah tersebut. Jika tidak dikelola secara bijak, industri ini dapat mempercepat penurunan kualitas udara dan memperburuk kondisi lingkungan yang sudah rentan.

Bagaimana Data Center Menjadi Sumber Emisi Karbon

Untuk memahami peran data center sebagai penyumbang emisi karbon, kita perlu melihat dua faktor utama: energi listrik untuk server dan energi untuk sistem pendinginan.

Server data center bekerja tanpa henti. Setiap transaksi digital, mulai dari scrolling media sosial hingga transaksi keuangan, membutuhkan daya komputasi yang menghasilkan panas. Panas tersebut harus dikendalikan melalui sistem pendinginan yang memakan energi sama besarnya, bahkan di beberapa kasus lebih tinggi daripada daya server itu sendiri.

Di negara dengan iklim tropis seperti Indonesia, pendinginan menjadi tantangan lebih besar. Suhu dan kelembapan udara yang cenderung tinggi menyebabkan sistem pendinginan harus bekerja ekstra keras. Semakin berat pekerjaan pendinginan, semakin besar konsumsi energi, dan semakin tinggi pula emisi karbon yang dilepaskan.

Emisi karbon dari data center kemudian berasal dari proses pembangkitan listrik yang digunakan untuk operasionalnya. Ketika listrik tersebut berasal dari pembangkit berbahan fosil, jejak karbon bertambah secara signifikan. Inilah yang membuat pembangunan data center di Indonesia sering menjadi perhatian aktivis lingkungan.

Konsumsi Energi yang Berlipat Ganda dari Tahun ke Tahun

Menurut berbagai studi global, pertumbuhan konsumsi energi data center dapat meningkat dua kali lipat dalam satu dekade. Hal ini disebabkan oleh:

  • meningkatnya jumlah pengguna internet,

  • meningkatnya kebutuhan penyimpanan data,

  • berkembangnya layanan cloud,

  • munculnya teknologi baru seperti AI dan machine learning yang sangat haus energi.

Indonesia yang sedang berada di masa ekspansi digital mengalami situasi ini secara langsung. Kehadiran perusahaan global seperti Google, Amazon, Microsoft, dan Alibaba yang membangun data center hyperscale menambah konsumsi energi secara drastis. Pada tingkat lokal, perusahaan telekomunikasi dan fintech pun membangun fasilitas serupa.

Jika tidak ada perencanaan energi berkelanjutan, konsumsi listrik data center dapat memperbesar ketergantungan daerah terhadap pembangkit fosil, yang berarti peningkatan emisi karbon dari waktu ke waktu.

Dampak Peningkatan Emisi Karbon terhadap Kualitas Udara Lokal

Salah satu dampak yang paling terlihat dari meningkatnya emisi karbon data center adalah penurunan kualitas udara di daerah sekitar. Meskipun sumber utama emisi sebenarnya berasal dari PLTU atau sumber energi fosil, data center tetap menjadi pemicu karena meningkatnya permintaan listrik.

Kualitas udara yang buruk berpotensi menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari iritasi mata dan saluran pernapasan, hingga risiko jangka panjang seperti penyakit paru-paru atau gangguan kardiovaskular. Di kota besar yang sudah memiliki tingkat polusi tinggi, pembangunan data center dalam jumlah besar dapat memperburuk kondisi tersebut.

Selain itu, peningkatan suhu mikro di sekitar lokasi data center juga dapat memengaruhi kualitas udara. Sistem pendinginan yang membuang udara panas secara terus-menerus dapat menciptakan fenomena heat island effect mini, yaitu peningkatan suhu lokal yang membuat lingkungan sekitar terasa lebih panas dibandingkan daerah lain.

Dampak terhadap Lingkungan dan Perubahan Iklim dalam Jangka Panjang

Jika dibiarkan, akumulasi emisi karbon dari industri data center dapat mempercepat perubahan iklim. Fasilitas digital ini kini menjadi salah satu penyumbang emisi yang meningkat seiring pertumbuhan teknologi. Pada skala nasional, hal tersebut bisa menghambat upaya pemerintah dalam menurunkan emisi sesuai komitmen Paris Agreement.

Secara lebih spesifik, pembangunan data center dapat berkontribusi pada:

  • meningkatnya suhu lingkungan,

  • perubahan pola cuaca,

  • meningkatnya risiko kebakaran hutan karena suhu lebih panas,

  • gangguan kesehatan masyarakat,

  • penurunan kualitas lingkungan untuk jangka panjang.

Semua ini menunjukkan bahwa pertumbuhan data center tidak bisa hanya dilihat dari perspektif ekonomi, melainkan juga harus dilihat dari sisi keberlanjutan ekologis.

Peran Infrastruktur Energi dalam Menentukan Besarnya Emisi Data Center

Kunci utama dalam menentukan seberapa besar dampak data center terhadap emisi karbon adalah sumber energi listriknya. Data center yang dibangun di daerah yang listriknya didominasi oleh PLTU batu bara tentu memiliki jejak karbon lebih tinggi dibandingkan data center yang menggunakan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, atau hidro.

Di Indonesia, porsi energi terbarukan masih relatif kecil, meskipun pemerintah terus meningkatkan targetnya. Namun hingga saat ini, banyak daerah masih mengandalkan pembangkit fosil. Artinya, setiap pembangunan data center otomatis menambah beban karbon daerah tersebut.

Ini berbeda dengan negara yang sudah jauh lebih maju dalam energi hijau seperti Norwegia, Islandia, atau Finlandia, di mana data center justru berkontribusi rendah terhadap emisi karena sistem energi mereka hampir sepenuhnya terbarukan.

Perubahan kebijakan energi nasional menjadi faktor yang menentukan apakah data center Indonesia di masa depan akan menjadi industri ramah lingkungan atau tetap menjadi kontributor polusi karbon.

Langkah-Langkah Solusi untuk Menekan Emisi Karbon Data Center

Untuk mengurangi dampak terhadap emisi karbon dan kualitas udara, berbagai teknologi dan strategi dapat diterapkan.

Beberapa langkah keberlanjutan yang dinilai efektif antara lain:

1. Penggunaan Energi Terbarukan untuk Operasional Data Center

Banyak perusahaan global kini mulai membeli energi hijau dari PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) atau PLTB (Pembangkit Angin) untuk mengimbangi konsumsi energi mereka. Meskipun implementasinya belum optimal di Indonesia, langkah ini mulai dilakukan dalam skala kecil.

2. Meningkatkan Efisiensi Pendinginan

Teknologi pendinginan modern seperti free cooling, liquid immersion cooling, dan hybrid cooling dapat mengurangi konsumsi energi hingga puluhan persen. Semakin sedikit energi pendinginan yang digunakan, semakin rendah emisi karbon yang dihasilkan.

3. Membangun Data Center di Kawasan dengan Infrastruktur Energi yang Lebih Bersih

Beberapa negara mendorong pembangunan data center di daerah yang memiliki sumber energi terbarukan melimpah. Jika Indonesia mampu mempercepat transisi energi, hal ini bisa menjadi peluang besar.

4. Desain Arsitektur Data Center yang Hemat Energi

Desain yang mempertimbangkan aliran udara, suhu lingkungan, pengaturan server, dan tata letak ruang dapat membantu mengurangi energi pendinginan. Data center masa depan harus mengadopsi konsep green architecture.

Pembangunan data center memang membawa manfaat besar bagi percepatan digitalisasi Indonesia. Namun, di balik semua keuntungannya, terdapat tanggung jawab besar terhadap lingkungan. Emisi karbon yang meningkat akibat konsumsi energi dan sistem pendinginan membuat industri data center perlu dikelola secara lebih hati-hati.

Jika energi listrik yang digunakan masih didominasi oleh pembangkit berbahan fosil, kualitas udara daerah bisa menurun dan jejak karbon semakin membesar. Inilah sebabnya pengembangan data center ke depan harus memperhatikan prinsip keberlanjutan, efisiensi energi, dan penggunaan sumber energi terbarukan.

Dengan inovasi teknologi, regulasi pemerintah yang mendukung energi bersih, serta komitmen perusahaan dalam menerapkan standar hijau, industri data center dapat berkembang tanpa memperburuk kondisi lingkungan. Keberhasilan pembangunan digital harus berjalan beriringan dengan keberlanjutan ekologis, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat dalam jangka panjang.