DTC Netconnect logo

Dampak Penggunaan Air pada Pembangunan Data Center di Suatu Daerah

Data Center Solution

Nov 25, 2025

Air sebagai Sumber Daya yang Sering Terlupakan dalam Industri Digital

Ketika kita membayangkan data center, pikiran biasanya tertuju pada server raksasa, energi listrik, atau pendinginan. Namun, ada satu aspek penting yang sering luput dari perhatian publik: penggunaan air.
Air memainkan peran penting dalam sebagian besar sistem pendinginan data center. Meski teknologi baru semakin efisien, fasilitas berskala besar tetap memerlukan air untuk menjaga suhu operasional server agar tetap stabil.

Seiring berkembangnya ekosistem digital Indonesia, semakin banyak data center dibangun di berbagai daerah. Pertumbuhan ini membawa manfaat ekonomi, tetapi juga menciptakan dinamika baru terhadap pengelolaan air—terutama di wilayah yang sensitif atau memiliki keterbatasan sumber daya.

Tidak dapat dipungkiri, digitalisasi masa depan bertumpu pada data center. Namun, masa depan lingkungan hidup juga bergantung pada bagaimana infrastruktur tersebut mengelola air dengan bijak.

Mengapa Data Center Membutuhkan Air?

Air digunakan terutama sebagai bagian dari sistem pendinginan. Untuk mempertahankan suhu ruangan sekitar 22–25°C dan memastikan server tetap berfungsi optimal, data center menggunakan beberapa mekanisme pendinginan, seperti:

  • Cooling Tower
    Digunakan untuk membuang panas melalui evaporasi air.

  • Chiller System
    Menggunakan air sebagai media transfer panas.

  • Evaporative Cooling
    Menggunakan air untuk proses penurunan suhu melalui penguapan.

Pada beberapa fasilitas tradisional, sistem-sistem ini bisa menghabiskan jutaan liter air per hari, terutama untuk data center hyperscale.

Meski penggunaan energi sering menjadi fokus utama, konsumsi air sebenarnya tidak kalah penting karena:

  1. Air adalah sumber daya terbatas.

  2. Banyak daerah mengalami perubahan iklim dan kekeringan musiman.

  3. Penggunaan air yang besar berpotensi bersinggungan dengan kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan industri lain.

Karena itu, tuntutan untuk menciptakan data center yang lebih water-efficient kini semakin kuat.

Dampak Penggunaan Air Data Center terhadap Lingkungan Lokal

1. Penurunan Ketersediaan Air Tanah

Salah satu dampak paling signifikan muncul ketika data center mengambil air dari sumur dalam atau sumber air tanah. Pemompaan air secara terus-menerus dapat menyebabkan:

  • penurunan muka air tanah,

  • pengeringan sumur rumah warga,

  • penurunan kualitas air tanah,

  • percepatan intrusi air laut di daerah pesisir.

Dampak ini sering muncul secara bertahap, sehingga masyarakat baru menyadari setelah beberapa tahun operasional.

2. Persaingan Kebutuhan Air dengan Masyarakat

Di daerah yang kebutuhan airnya cukup tinggi—misalnya kawasan permukiman padat atau sentra pertanian—meningkatnya konsumsi air industri dapat menjadi isu serius.

Contoh kasus yang sering terjadi di lapangan meliputi:

  • warga mengeluhkan berkurangnya tekanan air,

  • irigasi pertanian menjadi tidak optimal,

  • PDAM perlu meningkatkan kapasitas distribusi demi memenuhi kebutuhan tambahan dari sektor industri.

Perubahan pola konsumsi ini dapat menimbulkan resistensi sosial jika tidak dikelola dengan transparan dan adil.

3. Potensi Dampak pada Ekosistem Perairan

Air yang digunakan dalam sistem pendingin biasanya meninggalkan fasilitas dalam kondisi yang berbeda dari air masuk. Jika tidak dikelola dengan baik, air buangan (wastewater) dapat:

  • meningkatkan suhu air di lingkungan sekitar,

  • memengaruhi kelestarian organisme air,

  • menurunkan kualitas sungai atau kanal,

  • meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba tertentu.

Meski standar modern telah mengatur kualitas air buangan, fasilitas lama atau pengawasan yang kurang dapat menyebabkan pencemaran lokal.

4. Dampak Emisi Tidak Langsung

Penggunaan air yang besar biasanya memerlukan energi tambahan untuk pemompaan, pengolahan, dan distribusi. Artinya, semakin besar penggunaan air, semakin besar pula energi yang dibutuhkan. Ini menghasilkan efek tidak langsung berupa:

  • peningkatan emisi karbon,

  • meningkatnya biaya operasional,

  • beban tambahan pada infrastruktur air daerah.

Dampak ini sering tidak terlihat secara kasat mata tetapi tetap signifikan pada analisis lingkungan jangka panjang.

Tantangan Pembangunan Data Center di Daerah Sumber Air Terbatas

Indonesia memiliki banyak daerah yang rentan terhadap kekeringan musiman, terutama di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Ketika investor data center memilih lokasi, ketersediaan air sering menjadi faktor kritis, namun tetap harus dipadukan dengan pertimbangan:

  • stabilitas listrik,

  • jarak ke jaringan fiber optik,

  • akses lokasi,

  • ketersediaan lahan.

Ada kalanya sebuah lokasi ideal untuk infrastruktur digital tetapi kurang ideal dari perspektif sumber daya alam. Jika tidak dihitung dengan matang, ini dapat menimbulkan tekanan ekologis yang signifikan dan berisiko memunculkan konflik sosial.

Bagi pemerintah daerah, mengizinkan pembangunan data center harus disertai kajian AMDAL yang ketat terkait air. Jika tidak, kondisi lingkungan bisa berubah drastis setelah operasional berjalan beberapa tahun.

Teknologi Baru: Mengurangi Ketergantungan pada Air

Kabar baiknya, industri global kini bergerak menuju sistem pendinginan yang lebih efisien dan minim penggunaan air. Beberapa inovasi yang kian populer antara lain:

1. Air-Cooled System Modern

Menggunakan udara sepenuhnya sebagai media pendingin. Meskipun efisiensinya tergantung iklim, teknologi baru mampu mengurangi konsumsi air hingga 90%. Sistem ini cocok untuk daerah yang sumber airnya terbatas.

2. Liquid Immersion Cooling

Teknologi pendinginan imersi menggunakan cairan non-konduktif untuk membenamkan server. Sistem ini sangat efisien:

  • tidak membutuhkan cooling tower,

  • menghemat energi,

  • menghilangkan hampir seluruh penggunaan air.

Banyak data center hyperscale mulai menguji teknologi ini untuk komputasi intensif seperti AI dan HPC.

3. Recycled Water System (Grey Water)

Beberapa fasilitas mulai menggunakan air daur ulang (greywater) yang berasal dari:

  • limbah udara AC,

  • air hujan,

  • air olahan dari fasilitas kota.

Ini mengurangi ketergantungan pada air bersih yang digunakan masyarakat.

4. Evaporative Cooling Low-Water Consumption

Versi terbaru dari evaporative cooling mampu menurunkan suhu dengan jumlah air yang jauh lebih sedikit dibanding model lama. Efisiensinya cocok untuk iklim tropis seperti Indonesia.

Peran Pemerintah dan Regulasi dalam Pengelolaan Air Data Center

Pengelolaan air tidak bisa dibebankan pada operator saja. Pemerintah daerah dan pusat memegang peran besar dalam memastikan setiap pembangunan data center berjalan tanpa merugikan ekologi maupun masyarakat.

Beberapa langkah regulatif yang ideal meliputi:

  • penetapan batas konsumsi air sesuai kapasitas daerah,

  • kewajiban menggunakan teknologi pendingin hemat air untuk daerah sensitif,

  • audit air berkala pada fasilitas besar,

  • kewajiban penggunaan air daur ulang,

  • tata kelola air buangan yang lebih ketat.

Regulasi semacam ini memastikan bahwa pertumbuhan industri digital tetap berada dalam jalur keberlanjutan.

Contoh Implementasi Global yang Bisa Diadopsi Indonesia

Banyak negara mulai menerapkan water stewardship dalam industri data center. Beberapa contoh inspiratif:

  • Singapura menerapkan kebijakan sangat ketat karena keterbatasan air; data center harus memprioritaskan teknologi air rendah.

  • Belanda mendorong penggunaan air daur ulang untuk semua fasilitas industri besar.

  • Amerika Serikat menetapkan Water Usage Effectiveness (WUE) sebagai standar desain.

Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa, disesuaikan dengan karakteristik daerah dan ketersediaan sumber daya air.

Kesimpulan: Data Center Harus Tumbuh Tanpa Mengorbankan Sumber Air

Air merupakan fondasi kehidupan, dan keberlanjutannya jauh lebih penting daripada kenyamanan digital jangka pendek. Ketika pembangunan data center terus meningkat, pengelolaan air yang bijaksana harus menjadi prioritas utama.

Data center modern tidak harus menjadi ancaman bagi sumber daya alam. Dengan inovasi teknologi, regulasi tepat, dan kesadaran operator, fasilitas digital masa depan dapat berkembang tanpa merusak ekologi sekitar. Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menciptakan ekosistem data center berkelanjutan dengan mengadopsi pendinginan hemat air, memanfaatkan air daur ulang, serta merancang strategi jangka panjang berbasis konservasi.

Transformasi digital memang tidak dapat dihentikan, tetapi keberlanjutan lingkungan adalah kompas yang harus selalu dijaga. Infrastruktur digital yang maju hanya akan bermakna jika tumbuh berdampingan dengan kelestarian air dan alam di sekelilingnya.