Peta Besar Infrastruktur Kabel di Indonesia: Fondasi Data untuk Era AI (Artificial Intelligence)
Oct 22, 2025
Peta Besar Infrastruktur Kabel di Indonesia: Fondasi Data untuk Era AI
Di era kecerdasan buatan (AI), data adalah bahan bakar utama. Agar algoritma AI dapat berjalan cepat, tepat, dan realtime, dibutuhkan sistem jaringan kabel yang sangat kuat — baik di darat maupun bawah laut. Di Indonesia, yang terdiri dari ribuan pulau, pembangunan infrastruktur kabel menjadi tantangan sekaligus peluang besar. Artikel ini akan membahas bagaimana struktur jaringan kabel di Indonesia telah berkembang, mengapa hal itu penting bagi sistem AI, dan ke mana arah selanjutnya.
Perkembangan Jaringan Kabel Darat: Backbone Fiber Optik dan Perluasan Nusantara
Jaringan kabel darat, terutama fiber optik, menjadi tulang punggung konektivitas nasional. Menurut data resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), panjang fiber optik darat di Indonesia telah mencapai lebih dari 716.935 km, tersebar di 34 provinsi, 503 kota/kabupaten, 5.564 kecamatan, dan 47.483 desa/kuluran. Sumber: djppi.komdigi.go.id
Angka ini menunjukkan lonjakan sebesar lebih dari 269 % sejak Desember 2019. Infrastruktur ini sangat vital karena merepresentasikan jalur yang langsung menghubungkan pusat data, kota besar hingga wilayah terluar.
Bagi sistem AI, jaringan kabel darat yang andal memungkinkan pengiriman data besar (big data) ke dan dari pusat komputasi secara cepat, serta mengurangi latensi — faktor kunci dalam pelatihan model AI, prediksi, dan analitik real-time.
Proyek Besar Nasional: Palapa Ring dan Beyond
Salah satu tonggak penting adalah proyek Palapa Ring yang mencakup tiga segmen (Barat, Tengah, dan Timur) dengan panjang kabel laut + darat yang spektakuler — seperti disebut dalam laporan satu dekade: kabel laut hingga 35.280 km dan kabel darat sekitar 21.807 km. Sumber: maritim.go.id+1
Palapa Ring dirancang untuk menutup kesenjangan digital di lanskap nusantara dan memastikan bahwa lokasi-lokasi remote juga memiliki koneksi yang memadai. Untuk AI, keberadaan jalur backbone yang kuat seperti ini berarti pusat data atau edge-computing node dapat diletakkan lebih dekat ke pengguna, mengurangi latensi dan mempercepat deteksi atau respons.
Kabel Bawah Laut dan Peran Indonesia sebagai Hub Digital Regional
Indonesia tidak hanya mengembangkan jaringan darat, tetapi juga semakin memainkan peran strategis dalam kabel bawah laut (submarine cable). Proyek seperti SKKL Rising 8 yang menghubungkan Jakarta, Batam dan Singapura, dengan panjang sekitar 1.128,5 km dan kapasitas maksimal hingga 400 Tbps, tengah dikerjakan. Sumber: detikinet
Lebih lanjut, proyek besar lainnya melibatkan perusahaan raksasa teknologi seperti Meta Platforms dan Google LLC yang berniat membangun jalur kabel langsung ke/di Indonesia untuk memperkuat konektivitas dan menurunkan latensi antar benua. Sumber: Kompas+1
Bagi sistem AI, konektivitas internasional yang cepat dan redundan penting agar pusat data yang menjalankan model-model AI dapat mengakses data global, kolaborasi lintas wilayah, dan sinkronisasi realtime tanpa hambatan rute.
Tantangan Tata Ruang Kabel dan Penataan Infrastruktur
Meskipun banyak kemajuan, pembangunan jaringan kabel menghadapi tantangan di lapangan. Sebuah artikel mencatat bahwa di beberapa kota besar seperti Jakarta, penataan kabel belum mengikuti konsep ducting terintegrasi dan kabel sering terlihat semrawut. Sumber: Deutsche Welle
Kabel yang tak tertata atau duct-neraca yang tidak terkelola bisa memperlambat ekspansi, memicu gangguan dan meningkatkan biaya pemeliharaan. Dalam konteks AI yang membutuhkan konektivitas terus-menerus dan latensi rendah, infrastruktur fisik seperti ducting, manhole, dan perencanaan jalan kabel menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
Mengapa Struktur Kabel Penting untuk Sistem AI
Sistem AI terutama yang berskala besar (enterprise AI, edge AI, IoT+AI) memiliki karakteristik: data besar, berkecepatan tinggi, dan realtime. Untuk memenuhi ini diperlukan:
-
Bandwidth besar: Kabel optik dengan ribuan-ribu terabit per detik menjadi kebutuhan.
-
Latensi rendah: Pengguna atau perangkat edge AI tidak bisa menunggu lama — konektivitas cepat vital.
-
Redundansi dan reliabilitas: Downtime berarti kegagalan sistem, kehilangan data atau respons yang terlambat.
Dengan infrastruktur kabel yang kuat, Indonesia bisa menjadi lokasi strategis untuk pusat data yang mendukung AI, bukan hanya sebagai pengguna, tetapi sebagai pemain global.
Perkembangan struktur jaringan kabel di Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang signifikan: dari ekspansi kabel darat fibre optik, proyek nasional seperti Palapa Ring, hingga keterlibatan dalam kabel bawah laut global. Semua ini membentuk fondasi penting bagi sistem AI yang akan semakin mendominasi lanskap teknologi dan bisnis. Meski masih ada tantangan tata ruang dan penataan, peluang Indonesia untuk menjadi hub digital di kawasan semakin terbuka. Bagi perusahaan yang ingin memasuki era AI — baik sebagai penyedia layanan, pengguna, maupun pengembang — memahami lanskap ini adalah langkah awal yang strategis.

