DTC Netconnect logo

Revolusi Jaringan Kabel Terestrial & Bawah Laut Indonesia bagi Colocation & Hyperscale Data Center

Fiber Optic Solution

Oct 26, 2025

Revolusi Jaringan Kabel Terestrial & Bawah Laut Indonesia bagi Colocation & Hyperscale Data Center

Dalam lima tahun terakhir, Indonesia mengalami percepatan luar biasa dalam pembangunan jaringan komunikasi digital. Dari proyek kabel bawah laut yang menjangkau pulau-pulau terpencil, hingga jaringan terestrial berkecepatan tinggi yang menghubungkan kota-kota besar — semua bergerak menuju satu arah: konektivitas total untuk ekosistem data center modern.

Di tengah tren global menuju colocation dan hyperscale data center, infrastruktur kabel menjadi pondasi yang menentukan kecepatan, kapasitas, dan keandalan layanan digital di seluruh nusantara.


Mengapa Jaringan Kabel Menjadi Tulang Punggung Data Center?

Setiap data center — baik yang berskala kecil maupun besar — bergantung pada konektivitas kabel untuk mentransfer data antar server, pengguna, dan sistem cloud. Tanpa jaringan kabel yang kuat, pusat data hanya akan menjadi sekumpulan server tanpa arah.

Khusus untuk colocation dan hyperscale data center, kebutuhan konektivitas meningkat secara eksponensial. Model colocation mengharuskan ribuan klien berbagi infrastruktur yang sama, sementara hyperscale beroperasi dalam skala besar dengan puluhan ribu server yang harus selalu sinkron secara real-time.
Itulah mengapa jaringan kabel terestrial dan bawah laut menjadi tulang punggung yang menopang operasi digital Indonesia di era AI dan cloud.


Gambaran Umum Infrastruktur Kabel Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai sepanjang 95.000 kilometer. Kondisi geografis ini menjadikan pengembangan jaringan kabel sebagai tantangan sekaligus peluang besar.

Hingga tahun 2025, pemerintah dan swasta telah membangun:

  • Lebih dari 700.000 km kabel serat optik terestrial, menghubungkan kota-kota besar di seluruh provinsi.

  • Sekitar 200.000 km kabel bawah laut, termasuk proyek strategis seperti Palapa Ring, JASUKA, Batam Singapore Cable System, dan SEA-US.

Jaringan ini tidak hanya menghubungkan masyarakat antar pulau, tetapi juga menjadi tulang punggung utama data center nasional di kawasan industri digital seperti Cikarang, Batam, dan Bali.


Kabel Terestrial – Penggerak Pertumbuhan Data Center di Daratan

Kabel terestrial atau darat memainkan peran sentral dalam menghubungkan data center dengan jaringan kota, operator telekomunikasi, dan pelanggan perusahaan.
Penyebaran kabel ini kini difokuskan pada:

  1. Koridor industri digital — seperti Cikarang, Karawang, dan Tangerang, yang menjadi rumah bagi ratusan fasilitas colocation.

  2. Kawasan ekonomi khusus (KEK) — seperti Batam dan Kendal, yang menyiapkan infrastruktur kelas dunia untuk mendukung investasi asing di bidang teknologi.

  3. Kota tier-2 dan tier-3 — seperti Makassar, Medan, dan Balikpapan, untuk mendukung edge data center yang mendekatkan data ke pengguna akhir.

Perusahaan seperti Telkom Infra, Biznet Networks, Moratelindo, dan XL Axiata aktif memperluas jaringan kabel darat dengan sistem redundansi ganda (dual route), guna menjamin ketersediaan layanan tanpa downtime.


Kabel Bawah Laut – Menghubungkan Nusantara ke Dunia

Jika kabel darat menghubungkan antar kota, maka kabel bawah laut menghubungkan Indonesia dengan dunia.
Perkembangan kabel bawah laut sangat signifikan dalam lima tahun terakhir berkat meningkatnya investasi dari perusahaan global seperti Google, Meta, Amazon, dan Indosat Ooredoo Hutchison.

Beberapa proyek besar yang memperkuat posisi Indonesia antara lain:

  • Echo Cable System (2023): proyek kerja sama Google, Facebook, dan Telin yang menghubungkan Indonesia ke Amerika Serikat dan Singapura.

  • Apricot Cable System (2024): jaringan bawah laut yang menghubungkan Indonesia, Jepang, dan Guam.

  • SEA-H2X Cable System (2025): sistem baru yang menghubungkan Indonesia ke Hong Kong dan Vietnam, memperkuat kapasitas ekspor data.

Proyek-proyek ini mempercepat integrasi data center Indonesia dengan ekosistem digital global, menjadikan Batam dan Bali sebagai hub utama Asia Tenggara untuk trafik data lintas negara.


Hubungan antara Jaringan Kabel dan Colocation Data Center

Colocation data center menjadi pilihan banyak perusahaan di Indonesia karena efisiensi biaya dan keamanannya. Namun, efisiensi ini baru dapat tercapai jika jaringan kabel yang mendukungnya memiliki:

  • Kapasitas tinggi (≥100 Gbps per link)

  • Ketersediaan rute ganda (dual fiber path)

  • Koneksi langsung ke Internet Exchange (IX) dan penyedia cloud global.

Di sinilah peran jaringan kabel bawah laut dan terestrial menjadi sinergis:

  • Kabel bawah laut membawa data global masuk ke Indonesia.

  • Kabel darat mendistribusikan data itu ke berbagai colocation dan hyperscale data center.

Tanpa infrastruktur kabel yang kuat, seluruh ekosistem cloud dan colocation akan mengalami bottleneck sesuatu yang tidak bisa ditoleransi dalam era digital 24/7.


Hyperscale Data Center dan Tuntutan Konektivitas Ultra Cepat

Berbeda dengan colocation, hyperscale data center dirancang untuk mengoperasikan beban kerja masif dari perusahaan global seperti Google Cloud, Microsoft Azure, dan AWS.
Untuk menjalankan AI training, big data analytics, dan cloud gaming, pusat data jenis ini membutuhkan latensi ultra rendah (di bawah 1 ms) dan bandwidth hingga 400 Gbps per port.

Di Indonesia, fasilitas hyperscale kini tumbuh cepat di:

  • Cikarang (DCT GDC, PDG, NTT Data Center)

  • Batam (Telkomsigma & Princeton Digital Group)

  • Jakarta (Edge DC, Indonet, Indosat Nexcenter)

Semua fasilitas ini sangat bergantung pada keberadaan jaringan kabel dengan sistem redundant loop, agar komunikasi antar server, edge, dan user tetap lancar tanpa gangguan.


Integrasi Sistem Kabel Nasional dengan Cloud Global

Transformasi digital tidak hanya menuntut ketersediaan jaringan lokal, tetapi juga interkoneksi langsung ke cloud global.
Melalui proyek kabel bawah laut seperti Echo dan Apricot, Indonesia kini memiliki jalur langsung ke pusat data global di Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat.
Integrasi ini memungkinkan:

  • Pengguna cloud di Indonesia menikmati latensi lebih rendah

  • Data center lokal menjadi bagian dari jaringan multi-region cloud

  • Transfer data antar server global lebih cepat dan efisien

Langkah ini juga mendukung ambisi pemerintah menjadikan Indonesia sebagai Digital Hub Asia Tenggara, menggeser ketergantungan dari Singapura yang selama ini menjadi pusat utama.


Teknologi dan Inovasi dalam Jaringan Kabel Modern

Untuk mendukung pertumbuhan hyperscale dan colocation, industri kabel kini mulai menerapkan inovasi teknologi terkini, antara lain:

  • Optical Transport Network (OTN): mengoptimalkan jalur transmisi untuk meminimalkan latensi.

  • Wavelength Division Multiplexing (DWDM): memperbanyak kapasitas transmisi tanpa menambah jumlah kabel.

  • Real-Time Monitoring System: mendeteksi potensi gangguan fisik pada kabel bawah laut.

  • AI-based Traffic Routing: menggunakan kecerdasan buatan untuk mengatur arus data secara dinamis.

Penerapan teknologi ini bukan hanya meningkatkan performa jaringan, tetapi juga menekan biaya pemeliharaan dan downtime yang sering kali mahal.


Peran Pemerintah dan Swasta dalam Revolusi Kabel Nasional

Pemerintah Indonesia melalui Kominfo dan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) memainkan peran strategis dalam mendorong pembangunan kabel nasional.
Di sisi lain, sektor swasta menjadi motor utama yang mendorong efisiensi dan inovasi.

Kolaborasi publik-swasta menciptakan sinergi baru:

  • Pemerintah menyiapkan regulasi dan kebijakan insentif investasi.

  • Swasta menyediakan modal, teknologi, dan sumber daya manusia untuk membangun jaringan kabel kelas dunia.

Dengan sinergi ini, Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi kekuatan digital terbesar di Asia Tenggara.


Tantangan ke Depan – Ketahanan dan Standarisasi

Meski perkembangan pesat, industri kabel Indonesia masih menghadapi tantangan penting:

  • Risiko kerusakan kabel laut akibat aktivitas nelayan dan gempa bumi.

  • Ketiadaan standar nasional untuk instalasi dan penataan kabel bawah tanah di kota besar.

  • Kesenjangan infrastruktur antara Jawa dan kawasan timur.

Untuk menjamin keandalan jangka panjang, Indonesia perlu mengembangkan Sistem Proteksi Nasional Kabel Laut dan Terestrial, termasuk peta rute digital dan sistem pemantauan berbasis AI.


Kabel Adalah Jantung Transformasi Digital Indonesia

Revolusi jaringan kabel terestrial dan bawah laut bukan hanya proyek teknis, tetapi bagian dari upaya besar membangun ekosistem digital berdaulat.
Dari colocation kecil hingga hyperscale data center raksasa, semua bergantung pada kabel yang tersembunyi di bawah tanah dan laut, menghubungkan data, AI, dan manusia di seluruh Indonesia.

Dengan investasi berkelanjutan, integrasi lintas operator, dan adopsi teknologi terbaru, Indonesia siap memasuki babak baru transformasi digital di mana setiap bit data mengalir melalui jaringan kabel yang kuat, cepat, dan cerdas.