Dari XLSMART hingga Divestasi Menara: Jurus Operator Telekomunikasi Bertahan di Pasar yang Jenuh
Sep 30, 2026
Industri telekomunikasi Indonesia sedang memasuki babak yang sama sekali baru. Setelah lebih dari satu dekade perang tarif yang menggerus margin, para operator kini memilih jalan yang jauh lebih rasional. Data dari Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) memperlihatkan betapa timpangnya kondisi ini. Sepanjang periode 2010 hingga 2023, biaya spektrum yang harus dibayar operator melonjak lebih dari 500 persen, sementara pendapatan rata rata per pengguna atau ARPU justru anjlok hingga 48 persen pada periode yang sama. Ketimpangan inilah yang mendorong lahirnya konsolidasi besar seperti XLSMART, gelombang divestasi menara, hingga tren berbagi infrastruktur yang sudah lebih dulu terbukti efektif di Eropa.
Artikel ini membedah empat jurus utama yang dipakai operator telekomunikasi untuk bertahan di pasar yang sudah matang dan jenuh, lengkap dengan implikasinya bagi pemilik data center, penyelenggara jasa internet (ISP), system integrator, dan konsultan infrastruktur digital.
Poin Penting
Sebelum masuk ke pembahasan detail, berikut empat strategi utama yang akan dibahas.
- Konsolidasi industri lewat merger dan akuisisi, dengan XLSMART sebagai contoh paling nyata.
- Konvergensi layanan tetap dan seluler atau fixed mobile convergence (FMC).
- Model aset ringan lewat divestasi menara dan pusat data.
- Berbagi infrastruktur jaringan, dengan bukti empiris dari pasar Eropa.
Kejenuhan Pasar Telekomunikasi Indonesia: Akar Masalah yang Memaksa Perubahan
Penetrasi internet Indonesia sudah sangat tinggi. Pada 2026, jumlah penduduk yang terkoneksi internet mencapai 235,26 juta jiwa dari total populasi 287,89 juta jiwa, sehingga tingkat penetrasi internet naik menjadi 81,72 persen. Angka setinggi ini seharusnya menjadi kabar baik, tetapi bagi operator seluler justru menjadi sinyal bahwa ruang pertumbuhan pelanggan baru semakin sempit.
Industri telekomunikasi seluler kini memasuki fase baru, yaitu semakin matangnya pasar layanan data internet, sehingga persaingan antar operator bertumpu pada kecepatan integrasi jaringan, perluasan cakupan, optimalisasi spektrum frekuensi, efisiensi biaya, dan pengalaman pelanggan melalui layanan 5G. Dengan kata lain, pertumbuhan tidak lagi bisa dikejar semata dari akuisisi pelanggan baru, melainkan dari efisiensi biaya dan nilai tambah layanan.
Peta pangsa pasar pun ikut bergeser. Telkomsel kini menguasai 37,9 persen pengguna, turun dari 45,7 persen pada tahun sebelumnya, disusul Indosat Ooredoo Hutchison dengan 35,5 persen, dan XLSMART di posisi ketiga dengan 26,7 persen. Selisih yang semakin tipis ini menandakan persaingan berbasis harga sudah tidak lagi menguntungkan siapa pun, sehingga jalan keluar yang tersisa adalah efisiensi struktural.
Studi Kasus: XLSMART dan Gelombang Divestasi Menara
Merger XL Axiata dan Smartfren Membentuk XLSMART
PT XL Axiata Tbk, PT Smartfren Telecom Tbk, dan PT Smart Telecom resmi menggabungkan usaha menjadi entitas baru bernama XLSmart setelah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 25 Maret 2025, dengan tanggal efektif penggabungan pada 16 April 2025. Nilai gabungan sebelum sinergi tercatat melebihi 6,5 miliar dolar AS, dengan potensi sinergi biaya sebesar 300 juta hingga 400 juta dolar AS sebelum pajak. Sumber: Antara NewsHeaptalk
Axiata Group dan Sinar Mas kini berperan sebagai pemegang saham pengendali bersama, masing masing dengan kepemilikan 34,8 persen dan pengaruh setara atas arah strategis perusahaan. Entitas gabungan ini melayani 94,5 juta pelanggan dengan pangsa pasar sekitar 25 persen di sektor telekomunikasi seluler Indonesia. Regulator maupun pelaku pasar menilai langkah ini positif. Merger XL Axiata dan Smartfren diperkirakan mampu menstabilkan industri dengan mengurangi persaingan berbasis harga serta mendorong efisiensi dan kualitas jaringan. Sumber: XL Axiata & Smartfren Merger Update +2
Gelombang Divestasi Menara dan Pusat Data
Konsolidasi operator memicu efek berantai pada bisnis menara. Mitratel mencatat kenaikan tipis rasio tenancy menjadi 1,55 kali dengan 40.102 menara dan 61.987 penyewa, sementara Tower Bersama Infrastructure dan Sarana Menara Nusantara justru mengalami penurunan rasio tenancy akibat sejumlah kontrak sewa yang tidak diperpanjang pascamerger. Meski begitu, kinerja finansial ketiga perusahaan menara ini tetap tumbuh. Tower Bersama Infrastructure membukukan pendapatan Rp6,9 triliun pada 2025, naik 0,61 persen secara tahunan, sementara Sarana Menara Nusantara mengoperasikan 36.247 menara dengan 60.540 penyewa.
Tren divestasi aset non inti juga merambah ke bisnis pusat data milik operator pelat merah. Telkom Indonesia menargetkan divestasi saham anak usaha pusat datanya, NeutraDC, rampung pada akhir 2026 dengan nilai ditaksir mencapai 1 miliar hingga 1,5 miliar dolar AS, guna menggandeng operator data center global sebagai mitra strategis yang mampu memperkuat kapabilitas operasional dan melayani pelanggan hyperscaler. Langkah ini sejalan dengan rencana Telkom merampingkan struktur dari 60 perusahaan menjadi 14, sembari menyiapkan aksi korporasi pada bisnis pusat data dan menara telekomunikasi untuk membuka nilai ekonomi asetnya. Sumber: BisnisInvestorTrust
Empat Jurus Utama Operator Bertahan di Pasar Jenuh
1. Konsolidasi Industri Lewat Merger dan Akuisisi
XLSMART membuktikan bahwa penggabungan usaha bukan sekadar cara memperbesar skala pelanggan, melainkan cara membangun basis spektrum, jaringan, dan biaya operasional yang lebih efisien. Kelahiran XLSMART mengubah lanskap yang sebelumnya diwarnai fragmentasi intensif menjadi panggung oligopoli yang lebih sehat, dipimpin tiga entitas besar dengan basis modal dan arah teknologi yang lebih solid. Tren ini pun berpotensi berlanjut. Wacana merger antara Mitratel dan Tower Bersama Infrastructure mencuat, yang jika terealisasi akan melahirkan pemain menara berskala sangat besar dan meningkatkan tekanan kompetisi bagi pemain lain.
2. Konvergensi Layanan Tetap dan Seluler (FMC)
Ketika pendapatan seluler tertekan, operator mencari mesin pertumbuhan baru lewat penggabungan layanan tetap dan seluler dalam satu atap. Telkom mengintegrasikan layanan pita lebar tetap IndiHome ke unit usaha seluler Telkomsel, sehingga kini market share layanan konvergensi Telkomsel mencapai sekitar 67 persen dari total pasar FMC nasional. XL Axiata menempuh jalur serupa lewat pemisahan struktur bisnis. LinkNet dipisah menjadi entitas FiberCo sementara XL Axiata berperan sebagai ServeCo, dan melalui strategi FMC ini penetrasi produk XL Satu naik dari 37 persen menjadi 75 persen. Smartfren pun tidak ketinggalan lewat kolaborasi jaringan tetap bersama Moratelindo.
3. Model Aset Ringan Lewat Divestasi Menara dan Pusat Data
Melepas aset pasif seperti menara memungkinkan operator memusatkan modal pada jaringan inti dan layanan digital. Protelindo mengakuisisi 1.728 menara milik XL Axiata senilai sekitar 164 juta dolar AS pada 2020, disertai perjanjian sewa menara induk selama 10 tahun sehingga XL tetap dapat menggunakan menara tersebut tanpa harus memilikinya. Pola serupa juga pernah dijajaki Indosat. Indosat berpotensi memperoleh sekitar Rp8 triliun dari rencana pelepasan sekitar 4.000 menara telekomunikasi. Model sewa balik atau sale and leaseback semacam ini kini meluas ke bisnis pusat data lewat rencana divestasi NeutraDC milik Telkom yang telah dibahas sebelumnya.
4. Berbagi Infrastruktur, Bukti dari Eropa
Ini bagian yang paling relevan bagi pembaca di sektor infrastruktur digital. Kajian akademik menunjukkan potensi penghematan yang besar jika seluruh operator Indonesia menerapkan skema berbagi jaringan. Jika berbagi jaringan diterapkan oleh seluruh operator, biaya belanja modal berpotensi dihemat hingga Rp5,2 triliun dan biaya operasional hingga Rp1,4 triliun setiap tahun, sementara skema berbagi spektrum lewat multi operator core network mampu menghemat hingga 40 persen biaya modal dan operasional.
Eropa sudah membuktikan hal ini dalam skala yang jauh lebih besar dan lebih lama. Sebuah titik jaringan yang dikelola oleh perusahaan menara independen tercatat sekitar 40 persen lebih efisien dibandingkan yang dikelola langsung oleh operator seluler, dengan proyeksi penghematan ekonomi sebesar 31 miliar euro di seluruh Eropa dalam periode 2019 hingga 2029. Model berbagi infrastruktur semacam ini bahkan telah membebaskan 3,5 miliar euro dana investasi operator telekomunikasi tradisional untuk dialihkan ke keperluan lain, sekaligus mencegah hampir 4 juta ton emisi karbon dioksida dari duplikasi pembangunan menara.
Contoh nyata datang dari Inggris. EE milik BT dan Three berbagi peralatan jaringan lewat usaha patungan bernama MBNL, sementara Vodafone dan VMO2 berbagi lokasi menara lewat usaha patungan Cornerstone. Model berbagi ini bahkan terus berkembang ke arah yang lebih dalam. Perusahaan menara independen kini mulai memperluas cakupan berbagi hingga ke perangkat aktif atau RAN sharing dan aset di sekitar menara, sebuah model yang membantu operator memangkas biaya operasional sekaligus mengalihkan sumber daya untuk investasi teknologi baru.Sumber: WikipediaCellnex
Dampak bagi Ekosistem Data Center, ISP, dan System Integrator
Bagi pembaca yang bergerak di bisnis pusat data, jasa internet, dan integrasi sistem, keempat jurus di atas bukan sekadar berita korporasi, melainkan peta peluang bisnis baru.
Pertama, konsolidasi menara membuka ruang kolokasi yang lebih rasional. Ketika operator menyewa kembali menara yang mereka jual, kebutuhan akan fiber backhaul, catu daya cadangan, dan sistem monitoring jarak jauh justru meningkat, membuka peluang bagi ISP dan system integrator sebagai penyedia layanan pendukung.
Kedua, tren menara yang dilengkapi fiber dan mikro pusat data untuk kebutuhan edge computing semakin nyata di Eropa lewat model yang dijalankan perusahaan menara independen. Pola ini berpotensi diadopsi di Indonesia seiring menara berevolusi menjadi titik distribusi konten dan komputasi tepi jaringan, bukan sekadar penopang antena.
Ketiga, rencana divestasi aset digital seperti NeutraDC membuka peluang besar bagi konsultan data center dan system integrator untuk terlibat dalam uji tuntas teknis, migrasi beban kerja, dan integrasi operasional dengan mitra strategis baru.
Keempat, dari sisi keuangan industri, sinyalnya positif. EBITDA industri telekomunikasi diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 6 hingga 7 persen pada periode 2025 sampai 2027, dengan laba bersih inti tumbuh 12,7 persen, seiring ARPU industri yang diperkirakan naik dari Rp40.300 pada 2025 menjadi Rp44.400 pada 2027. Kesehatan finansial operator yang membaik ini pada akhirnya akan mendorong belanja modal yang lebih terukur namun berkelanjutan, termasuk pada infrastruktur digital pendukung seperti data center dan jaringan interkoneksi. Sumber: RCTI+
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu model aset ringan dalam industri telekomunikasi?
Model aset ringan adalah strategi ketika operator melepas kepemilikan aset pasif seperti menara atau pusat data kepada pihak ketiga, lalu menyewanya kembali untuk dipakai secara operasional, sehingga modal bisa dialihkan ke jaringan inti dan layanan digital.
Kenapa berbagi infrastruktur bisa menekan biaya secara signifikan?
Karena beberapa operator memakai aset pasif dan bahkan perangkat aktif yang sama, sehingga biaya pembangunan, sewa lahan, listrik, dan pemeliharaan bisa ditanggung bersama, sebagaimana terbukti pada skema Eropa yang mampu menekan biaya hingga puluhan miliar euro dalam satu dekade.
Apakah konsolidasi operator akan terus berlanjut di Indonesia?
Tanda tandanya mengarah ke sana. Selain XLSMART, wacana konsolidasi juga mulai muncul di bisnis menara, menandakan bahwa efisiensi skala menjadi kebutuhan struktural, bukan sekadar pilihan taktis jangka pendek.
Penutup
Pasar telekomunikasi Indonesia telah memasuki fase kedewasaan yang memaksa seluruh pemain berpikir ulang tentang model bisnisnya. XLSMART menandai era konsolidasi, gelombang divestasi menara dan pusat data menandai era aset ringan, sementara konvergensi layanan dan berbagi infrastruktur menjadi jalan menuju efisiensi jangka panjang. Bagi pelaku industri data center, ISP, system integrator, dan konsultan infrastruktur digital, memahami arah perubahan ini bukan lagi pilihan, melainkan bekal penting untuk menangkap peluang di tengah pasar yang semakin jenuh namun tetap tumbuh secara nilai.

