DTC Netconnect logo

Tidak Cukup Hanya Hemat Listrik, Data Center Indonesia Harus Mulai Mengukur Efisiensi Air Sekarang.

Data Center Solution

Jul 31, 2026

Selama bertahun tahun, PUE menjadi satu satunya angka yang diperdebatkan di ruang rapat data center. Setiap operator berlomba menurunkan Power Usage Effectiveness mereka mendekati angka 1,0 sebagai simbol efisiensi dan keberlanjutan. Namun kini ada metrik baru yang sama pentingnya, bahkan bisa dibilang lebih krusial untuk konteks Indonesia, yaitu WUE atau Water Usage Effectiveness.

Sebab memiliki PUE rendah dengan cara menghabiskan ribuan liter air per jam bukanlah solusi. Itu hanya memindahkan masalah dari tagihan listrik ke krisis air bersih. Ketika sebuah fasilitas menggunakan sistem pendinginan evaporatif untuk menekan konsumsi energi, ia sering kali menukar efisiensi listrik dengan konsumsi air yang sangat besar. Dalam jangka panjang, pertukaran ini bisa menjadi bumerang, terutama di negara dengan tekanan sumber daya air yang terus meningkat seperti Indonesia.

Artikel ini membahas mengapa WUE harus segera menjadi bagian dari dashboard operasional setiap data center di Indonesia, bagaimana metrik ini bekerja, serta langkah konkret yang bisa diambil oleh pemilik fasilitas, ISP, system integrator, dan konsultan data center untuk mulai mengukur dan mengoptimalkannya.

Memahami WUE: Metrik yang Sering Diabaikan

Water Usage Effectiveness atau WUE adalah metrik yang dikembangkan oleh The Green Grid, organisasi yang sama yang memperkenalkan PUE. WUE mengukur jumlah air yang dikonsumsi oleh fasilitas data center dibandingkan dengan total energi yang digunakan oleh peralatan IT, biasanya dinyatakan dalam liter per kilowatt jam (L/kWh).

Rumus dasarnya sederhana. Total konsumsi air tahunan dibagi dengan total energi yang dikonsumsi peralatan IT dalam kilowatt jam. Semakin rendah angka WUE, semakin efisien fasilitas tersebut dalam menggunakan air relatif terhadap beban komputasinya.

Ada dua jenis WUE yang perlu dipahami oleh setiap profesional data center. Pertama, WUE Site, yaitu konsumsi air langsung di lokasi fasilitas, termasuk untuk sistem pendinginan evaporatif, humidifikasi, dan kebutuhan operasional lainnya. Kedua, WUE Source, yang memperhitungkan konsumsi air tidak langsung dari pembangkit listrik yang memasok energi ke fasilitas tersebut. Pembangkit listrik berbasis termal, misalnya, juga menggunakan air dalam jumlah besar untuk proses pendinginannya.

Selama ini WUE sering diabaikan karena air dianggap sumber daya murah dan mudah didapat dibandingkan listrik. Namun asumsi ini keliru, terutama ketika kita melihat konteks geografis dan iklim Indonesia secara lebih mendalam.

Mengapa WUE Kritis untuk Indonesia?

Indonesia memiliki karakteristik unik yang membuat WUE menjadi metrik yang tidak bisa lagi dikesampingkan. Pertama, iklim tropis dengan kelembapan tinggi membuat banyak fasilitas data center mengandalkan sistem pendinginan berbasis evaporasi atau economizer air untuk menekan konsumsi listrik pendinginan. Sistem ini memang efektif menurunkan PUE, tetapi menghasilkan konsumsi air yang signifikan, apalagi ketika beroperasi sepanjang tahun tanpa jeda musim dingin seperti di negara empat musim.

Kedua, krisis ketersediaan air bersih di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di kawasan perkotaan padat seperti Jabodetabek, sudah menjadi isu nyata. Ekstraksi air tanah berlebihan di Jakarta telah menyebabkan penurunan muka tanah yang signifikan selama beberapa dekade terakhir. Ketika data center baru dibangun di kawasan yang sama dan menggunakan air tanah atau air PDAM dalam jumlah besar untuk pendinginan, fasilitas tersebut berpotensi memperparah tekanan pada sumber daya air lokal yang sudah rentan.

Ketiga, pertumbuhan investasi data center di Indonesia sedang berada pada titik tertinggi. Kehadiran hyperscaler global, permintaan komputasi untuk kecerdasan buatan, serta pertumbuhan ekonomi digital mendorong pembangunan fasilitas baru dalam skala besar di berbagai kota. Tanpa pengukuran dan perencanaan WUE yang matang sejak awal, ekspansi ini berisiko menciptakan konflik kepentingan antara industri digital dan kebutuhan air masyarakat sekitar.

Keempat, regulasi dan tekanan keberlanjutan global semakin ketat. Perusahaan multinasional yang menyewa ruang di data center Indonesia semakin sering meminta laporan keberlanjutan yang mencakup jejak air, bukan hanya jejak karbon. Fasilitas yang tidak memiliki data WUE yang jelas berisiko kehilangan peluang bisnis dari klien enterprise yang memiliki komitmen ESG ketat.

Dengan kombinasi faktor iklim, kelangkaan air lokal, laju pembangunan yang cepat, dan tekanan pasar global, Indonesia sebenarnya berada pada posisi yang lebih rentan dibandingkan banyak negara lain dalam hal risiko air data center.

Tiga Metrik Efisiensi yang Wajib Dipantau Data Center Indonesia

Mengelola efisiensi data center secara menyeluruh membutuhkan lebih dari satu angka. Berikut tiga metrik utama yang idealnya dipantau bersamaan oleh setiap operator, ISP, maupun konsultan yang menangani proyek data center di Indonesia.

Pertama adalah PUE atau Power Usage Effectiveness. Metrik ini tetap relevan sebagai indikator dasar efisiensi energi. PUE mengukur rasio antara total energi yang masuk ke fasilitas dengan energi yang benar benar digunakan oleh peralatan IT. Angka ideal mendekati 1,0 menunjukkan sedikit energi yang terbuang untuk fungsi pendukung seperti pendinginan dan distribusi daya. Namun PUE saja tidak cukup untuk menggambarkan dampak lingkungan secara utuh, terutama karena angka ini bisa ditekan dengan cara yang justru membebani sumber daya air.

Kedua adalah WUE atau Water Usage Effectiveness seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Metrik ini melengkapi PUE dengan memberikan gambaran tentang berapa banyak air yang dikorbankan untuk mencapai efisiensi energi tersebut. Operator data center sebaiknya menetapkan target WUE spesifik berdasarkan teknologi pendinginan yang digunakan, lokasi fasilitas, dan ketersediaan sumber air alternatif seperti air daur ulang atau air hujan.

Ketiga adalah CUE atau Carbon Usage Effectiveness. Metrik ini mengukur jejak karbon dari energi yang dikonsumsi fasilitas, dengan mempertimbangkan sumber energi yang digunakan, apakah berasal dari bahan bakar fosil atau energi terbarukan. CUE menjadi pelengkap penting karena efisiensi energi dan air tidak selalu berbanding lurus dengan rendahnya emisi karbon, terutama jika sumber listrik masih didominasi pembangkit batu bara seperti pada sebagian besar jaringan listrik Indonesia saat ini.

Ketiga metrik ini idealnya dipantau secara bersamaan dan dilaporkan secara berkala, bukan hanya sebagai laporan tahunan untuk kebutuhan sertifikasi, melainkan sebagai bagian dari dashboard operasional harian. Dengan begitu, tim teknis dapat segera mendeteksi anomali, misalnya lonjakan konsumsi air yang tidak sebanding dengan peningkatan beban IT, sebelum masalah tersebut membesar menjadi risiko operasional maupun reputasi.

Roadmap Strategi untuk Data Center Indonesia

Bagi pemilik data center, ISP, system integrator, dan konsultan yang ingin mulai serius mengelola efisiensi air, berikut adalah roadmap strategis yang bisa diadaptasi sesuai skala dan kondisi fasilitas masing masing.

Langkah pertama adalah melakukan audit baseline. Sebelum menetapkan target apapun, fasilitas perlu mengetahui angka WUE mereka saat ini secara akurat. Ini membutuhkan pemasangan meteran air yang terpisah untuk sistem pendinginan, humidifikasi, dan kebutuhan operasional lainnya, sehingga data konsumsi air benar benar mencerminkan aktivitas fasilitas, bukan estimasi kasar dari tagihan PDAM bulanan.

Langkah kedua adalah mengevaluasi teknologi pendinginan yang digunakan. Sistem pendinginan berbasis air seperti cooling tower dan evaporative cooling memang efisien secara energi, tetapi boros air. Sebagai alternatif, teknologi seperti direct to chip liquid cooling, immersion cooling, atau sistem pendinginan udara dengan economizer kering dapat dipertimbangkan, terutama untuk fasilitas baru yang berada di kawasan dengan keterbatasan sumber air. Setiap pilihan teknologi memiliki trade off antara PUE dan WUE, sehingga keputusan harus diambil berdasarkan kondisi lokal, bukan sekadar mengikuti tren global.

Langkah ketiga adalah memanfaatkan sumber air alternatif. Pemanfaatan air hujan melalui sistem rainwater harvesting, penggunaan air daur ulang dari proses treatment internal, atau kerja sama dengan fasilitas pengolahan air limbah setempat dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan pada air tanah maupun air PDAM. Beberapa data center di kawasan tropis lain telah berhasil menekan konsumsi air bersih hingga signifikan dengan strategi ini.

Langkah keempat adalah menetapkan target dan pelaporan transparan. Setelah baseline diketahui, fasilitas perlu menetapkan target penurunan WUE tahunan yang realistis, kemudian melaporkannya secara konsisten kepada manajemen, klien, maupun regulator terkait. Transparansi ini juga menjadi nilai jual tersendiri di tengah meningkatnya permintaan klien enterprise akan laporan keberlanjutan yang kredibel.

Langkah kelima adalah melibatkan seluruh rantai nilai. System integrator dan konsultan memiliki peran penting dalam mengedukasi klien sejak tahap perencanaan desain, bukan hanya saat fasilitas sudah beroperasi. Keputusan mengenai lokasi, teknologi pendinginan, dan sumber air idealnya sudah mempertimbangkan aspek WUE sejak fase studi kelayakan, karena perubahan sistem pendinginan setelah fasilitas beroperasi jauh lebih mahal dan rumit dibandingkan merancangnya dengan benar sejak awal.

Kesimpulan

Efisiensi energi akan selalu menjadi prioritas utama industri data center, namun narasi keberlanjutan tidak bisa lagi berhenti di angka PUE saja. Bagi Indonesia, dengan tantangan geografis, iklim tropis, dan tekanan sumber daya air yang nyata di berbagai kota besar, WUE bukan sekadar metrik tambahan, melainkan kebutuhan strategis yang menentukan keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Pemilik data center, ISP, system integrator, dan konsultan yang mulai mengukur, memantau, dan mengoptimalkan WUE sejak sekarang akan memiliki posisi yang lebih kuat, baik dari sisi kepatuhan regulasi, daya tarik bagi klien enterprise global, maupun kontribusi nyata terhadap keberlanjutan sumber daya air di Indonesia. Waktu untuk bertindak bukan nanti, melainkan sekarang, sebelum krisis air menjadi masalah yang jauh lebih sulit diselesaikan dibandingkan tagihan listrik.