DTC Netconnect logo

On-Premise vs Cloud dalam Infrastruktur IT untuk Bisnis di Era Digital

Data Center Solution

Mar 20, 2025

 

Dalam era digital yang semakin maju, perusahaan di seluruh dunia dihadapkan pada tantangan untuk memilih model infrastruktur jaringan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Dua pilihan utama yang sering dipertimbangkan adalah model on-premise dan cloud. 

Masing-masing model memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat mempengaruhi efisiensi operasional, keamanan data, dan biaya. 

Artikel ini akan membahas secara mendalam perbandingan antara infrastruktur on-premise dan cloud berdasarkan berbagai aspek penting, termasuk biaya, skalabilitas, keamanan, kontrol, performa, pemulihan bencana, dan Vendor Lock-in .

  Definisi dan Lokasi Infrastruktur

On-Premise

Model on-premise mengacu pada infrastruktur IT yang dikelola langsung oleh perusahaan di lokasi fisik mereka. Dalam model ini, semua perangkat keras, perangkat lunak, dan data disimpan serta dikelola di dalam fasilitas perusahaan. 

Dengan demikian, perusahaan memiliki kontrol penuh atas seluruh elemen infrastruktur tersebut. Model ini sering kali digunakan oleh perusahaan besar dengan kebutuhan spesifik dan sumber daya untuk mengelola infrastruktur mereka sendiri.

Cloud

Sebaliknya, model cloud menggunakan infrastruktur yang dikelola oleh penyedia layanan pihak ketiga. Data dan aplikasi disimpan di server yang dapat diakses melalui internet. 

Dalam hal ini, perusahaan hanya menyewa sumber daya sesuai kebutuhan tanpa harus mengelola perangkat keras secara langsung. Model ini menawarkan fleksibilitas lebih besar dalam penggunaan sumber daya IT dan memungkinkan perusahaan untuk fokus pada inti bisnis mereka.

Perbandingan Biaya

On-Premise

Salah satu pertimbangan utama dalam memilih infrastruktur adalah biaya. Model on-premise membutuhkan investasi awal yang signifikan untuk pengadaan perangkat keras, instalasi, dan pembangunan pusat data. 

Selain itu, biaya operasional meliputi pemeliharaan perangkat keras, konsumsi daya listrik, serta gaji staff IT untuk manajemen sistem. Dengan demikian, model ini bersifat capital expenditure (CapEx), di mana perusahaan memiliki aset fisik setelah investasi awal dilakukan.

Dalam jangka panjang, model ini bisa lebih hemat biaya untuk aplikasi dengan pola penggunaan yang stabil karena tidak ada biaya berlangganan bulanan. Namun, jika perusahaan tidak memanfaatkan kapasitas secara optimal, maka investasi awal dapat menjadi beban finansial yang berat.

Cloud

Di sisi lain, model cloud tidak memerlukan investasi awal yang besar karena menggunakan model pembayaran sesuai penggunaan (pay-as-you-go). Biaya operasional lebih rendah karena pemeliharaan dilakukan oleh penyedia layanan. 

Ini menjadikan model cloud lebih menarik bagi banyak perusahaan yang ingin mengurangi beban biaya awal. Model ini bersifat operational expenditure (OpEx), sehingga perusahaan tidak memiliki kepemilikan atas infrastruktur meskipun telah membayar dalam jangka panjang.

Namun, penting untuk dicatat bahwa jika penggunaan sumber daya tidak diawasi dengan baik, biaya bulanan dapat meningkat secara signifikan. Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan perencanaan dan pengawasan anggaran dengan cermat agar tidak terjebak dalam biaya tak terduga.

Skalabilitas

On-Premise

Skalabilitas menjadi faktor penting dalam memilih infrastruktur jaringan. Dalam model on-premise, skalabilitas terbatas karena penambahan kapasitas membutuhkan pengadaan perangkat keras baru dan waktu instalasi yang lama. 

Penurunan skala juga sulit dilakukan karena perangkat keras tetap menjadi aset perusahaan meskipun tidak lagi digunakan.

Model ini cocok untuk perusahaan dengan kebutuhan yang relatif stabil dan tidak berubah drastis dalam waktu singkat. 

Namun, bagi perusahaan yang mengalami pertumbuhan cepat atau fluktuasi permintaan tinggi, model ini mungkin tidak efisien.

Cloud

Sebaliknya, model cloud sangat fleksibel dalam meningkatkan atau menurunkan skala sesuai kebutuhan bisnis. Proses penyesuaian kapasitas hanya membutuhkan beberapa klik dan dapat dilakukan dalam hitungan menit tanpa downtime. 

Hal ini memungkinkan perusahaan untuk dengan cepat menanggapi perubahan permintaan pasar atau pertumbuhan bisnis yang pesat. 

Dengan kemampuan untuk menambah atau mengurangi sumber daya sesuai kebutuhan secara real-time, model cloud sangat cocok untuk startup atau perusahaan yang beroperasi di industri dinamis.

 Keamanan

On-Premise

Keamanan adalah salah satu aspek paling krusial dalam infrastruktur IT. Dalam model on-premise, perusahaan memiliki kontrol penuh atas data dan sistem keamanan. 

Ini sangat cocok untuk perusahaan dengan kebutuhan regulasi ketat terkait privasi data seperti sektor keuangan atau kesehatan. Risiko keamanan sepenuhnya menjadi tanggung jawab perusahaan, termasuk perlindungan terhadap serangan siber.

Namun, kontrol penuh ini juga berarti bahwa perusahaan harus memiliki tim IT yang kompeten untuk mengelola keamanan sistem secara efektif. Jika tidak dikelola dengan baik, risiko kebocoran data atau serangan siber dapat meningkat.

Cloud

Di sisi lain, penyedia layanan cloud biasanya menawarkan fitur keamanan tingkat tinggi seperti enkripsi data saat transit dan saat disimpan serta sistem pemulihan bencana yang canggih. Penyedia cloud juga sering kali memiliki tim keamanan khusus yang bertugas untuk melindungi infrastruktur mereka dari ancaman eksternal.

Namun, ada kekhawatiran mengenai kehilangan kontrol atas data sensitif ketika disimpan di server pihak ketiga. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk melakukan due diligence saat memilih penyedia layanan cloud dan memastikan bahwa mereka memenuhi standar keamanan yang diperlukan.

Kontrol

On-Premise

Dalam hal kontrol, model on-premise memberikan kontrol penuh terhadap perangkat keras, konfigurasi sistem, dan data. Perusahaan dapat mengatur infrastruktur sesuai kebutuhan spesifik mereka tanpa batasan dari penyedia layanan eksternal. Ini sangat cocok untuk industri dengan regulasi ketat atau kebutuhan kustomisasi tinggi.

Namun demikian, kontrol penuh ini juga berarti tanggung jawab penuh atas semua aspek manajemen IT. Perusahaan harus siap menghadapi tantangan terkait pemeliharaan perangkat keras dan pembaruan sistem secara berkala.

Cloud

Sebaliknya, pengguna dalam model cloud memiliki kontrol terbatas terhadap konfigurasi infrastruktur. Sebagian besar pengaturan dilakukan oleh penyedia layanan cloud. Data disimpan di server multi-tenant sehingga perusahaan tidak memiliki akses langsung ke lokasi fisik penyimpanan data.

Meskipun demikian, banyak penyedia cloud menawarkan opsi kustomisasi tertentu sehingga pelanggan masih dapat menyesuaikan beberapa aspek sesuai kebutuhan mereka.

 Performa

On-Premise

Performa jaringan juga menjadi pertimbangan penting dalam memilih infrastruktur. Dalam model on-premise, performa tinggi karena sistem berjalan secara lokal tanpa bergantung pada koneksi internet eksternal. Latensi rendah dan dapat dioptimalkan sesuai kebutuhan spesifik perusahaan melalui pengaturan perangkat keras dan jaringan internal.

Model ini sangat cocok untuk aplikasi atau proses bisnis yang membutuhkan respons cepat tanpa gangguan jaringan eksternal seperti aplikasi real-time atau analisis data besar (big data).

Cloud

Namun, dalam model cloud, performa bergantung pada koneksi internet dan bandwidth yang tersedia. Jika koneksi internet terganggu atau lambat, performa aplikasi juga akan terpengaruh secara negatif. Penyedia layanan biasanya menawarkan berbagai opsi instance dengan karakteristik performa berbeda-beda untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Meskipun demikian, banyak penyedia cloud memiliki pusat data di berbagai lokasi geografis sehingga dapat menawarkan latensi rendah kepada pengguna di seluruh dunia.

Pemulihan Bencana

On-Premise

Pemulihan bencana merupakan aspek penting lainnya dari infrastruktur IT. Dalam model on-premise, pemulihan bencana sepenuhnya menjadi tanggung jawab perusahaan. 

Perlu investasi tambahan untuk membangun sistem cadangan (backup) yang efektif agar data tetap aman jika terjadi bencana atau kerusakan fisik pada perangkat keras. Risiko kehilangan data lebih tinggi jika tidak ada strategi pemulihan bencana yang memadai serta cadangan data yang rutin dilakukan.

Cloud

Sebaliknya, penyedia layanan cloud biasanya menawarkan solusi pemulihan bencana terintegrasi dengan cadangan otomatis di beberapa lokasi geografis. Hal ini mengurangi risiko kehilangan data karena adanya redundansi penyimpanan yang dikelola oleh penyedia layanan.

Model ini memberikan perlindungan lebih baik terhadap bencana alam atau kerusakan fisik pada perangkat keras lokal serta memungkinkan pemulihan cepat setelah insiden terjadi.

Vendor Lock-In

Salah satu tantangan utama dalam memilih model cloud adalah risiko vendor lock-in. Perusahaan dapat kesulitan beralih ke penyedia layanan lain karena perbedaan standar teknologi atau biaya migrasi yang tinggi setelah terikat kontrak jangka panjang dengan satu penyedia tertentu.

Di sisi lain, model on-premise tidak menghadapi masalah ini karena semua aset dimiliki sepenuhnya oleh perusahaan sehingga mereka bebas untuk beralih ke solusi lain kapan pun dibutuhkan tanpa terikat kontrak jangka panjang.

Pemilihan antara on-premise dan cloud sangat bergantung pada kebutuhan bisnis masing-masing:

Gunakan On-Premise Jika:

  • Perusahaan membutuhkan kontrol penuh terhadap infrastruktur IT.

  • Ada regulasi ketat terkait privasi data.

  • Kustomisasi tinggi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan spesifik.

  • Perusahaan memiliki sumber daya internal untuk mengelola sistem secara efektif.

Gunakan Cloud Jika:

  • Fleksibilitas dan skalabilitas menjadi prioritas utama.

  • Perusahaan ingin mengurangi biaya operasional dan investasi awal.

  • Pemulihan bencana serta aksesibilitas global menjadi faktor penting.

  • Perusahaan ingin fokus pada inti bisnis tanpa terbebani manajemen IT kompleks.

Dengan memahami perbedaan mendasar antara kedua model ini serta mempertimbangkan faktor-faktor di atas, perusahaan dapat membuat keputusan yang tepat untuk mendukung pertumbuhan bisnis mereka secara efisien di era digital saat ini.