DTC Netconnect logo

Mengapa Liquid Cooling Lebih Efektif Menyerap Panas Dibandingkan Air Cooling pada Infrastruktur AI Modern

Data Center Solution

Dec 12, 2025

 

Transformasi digital yang dipicu oleh Artificial Intelligence (AI) menciptakan lonjakan kebutuhan komputasi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Workload AI seperti training model besar, inferensi real-time, hingga visual computing mendorong penggunaan server dengan GPU/CPU berdaya tinggi yang menghasilkan panas ekstrem. Semakin besar daya yang digunakan, semakin besar kebutuhan untuk memastikan seluruh perangkat tetap berada dalam kondisi termal yang stabil.

Selama satu dekade terakhir, metode pendinginan udara (air cooling) menjadi standar utama data center. Namun dengan meningkatnya densitas rack dan kebutuhan daya yang bisa mencapai 30–80 kW per rack untuk server AI, air cooling mulai melampaui batas kemampuannya. Inilah saat liquid cooling mengambil peran.

Artikel ini menjelaskan secara teknis dan komprehensif mengapa liquid cooling—dalam berbagai bentuknya seperti direct-to-chip (DTC) dan immersion cooling—mampu menyerap panas jauh lebih baik dibandingkan udara, serta mengapa teknologi ini menjadi standar masa depan infrastruktur AI.

Perbedaan Fundamental: Kapasitas Menyerap Panas antara Air dan Liquid

Untuk memahami keunggulan liquid cooling, kita perlu melihat sifat fisik paling mendasar: kapasitas panas spesifik dan konduktivitas termal.

Air memiliki kemampuan menyerap panas yang sangat terbatas. Secara ilmiah, air hanya mampu membawa panas dalam jumlah kecil per volume. Selain itu, konduktivitas termal udara sangat rendah, sehingga panas berpindah dengan lambat. Akibatnya, pendinginan udara membutuhkan volume yang sangat besar dan aliran yang sangat cepat untuk mempertahankan suhu server.

Sebaliknya, cairan memiliki konduktivitas termal hingga 1.500 kali lebih tinggi daripada udara. Artinya, cairan dapat menyerap panas lebih cepat, memindahkannya lebih efisien, dan mempertahankan suhu yang lebih stabil.

Inilah alasan prinsip ilmiahnya sangat kuat: liquid menghantarkan panas jauh lebih baik dibandingkan udara.

Tantangan Panas pada Sistem AI Modern

Server untuk AI modern seperti NVIDIA H100, MI300, Gaudi, dan chip generasi berikutnya dapat menghasilkan panas luar biasa dalam hitungan detik. GPU/CPU generasi terbaru dapat bekerja pada daya 500W per chip atau lebih, dan server AI multi-GPU dapat mencapai 7–10 kW hanya dalam satu server.

Air cooling sulit menanganinya karena:

  1. Udara tidak bisa menyerap panas secepat panas yang dihasilkan.

  2. Suhu udara meningkat secara signifikan ketika melewati komponen.

  3. Server harus memiliki kipas super kuat yang menghasilkan kebisingan dan konsumsi listrik tinggi.

  4. Suhu ruangan harus diturunkan, membuat konsumsi energi data center meningkat.

Dengan densitas AI rack yang semakin padat, kemampuan pendinginan berbasis udara menjadi tidak relevan lagi secara teknis dan ekonomis.

Cara Kerja Liquid Cooling dalam Menyerap dan Memindahkan Panas

Pada data center modern, liquid cooling bekerja dengan memindahkan cairan tepat ke titik panas (hotspot) seperti CPU atau GPU. Melalui cold plate, cairan menyerap panas secara langsung dari permukaan chip. Setelah itu, cairan yang sudah panas dialirkan ke unit penukar panas (heat exchanger) untuk diturunkan suhunya.

Mengapa ini jauh lebih efisien? Karena cairan dapat:

  • menyerap panas hingga 4.000–5.000 kali lebih cepat per volume dibandingkan udara,

  • menjaga suhu chip lebih konsisten meskipun workload meningkat,

  • mencegah thermal throttling bahkan pada beban AI yang ekstrem,

  • bekerja tanpa membutuhkan kipas internal berdaya besar,

  • mengurangi panas di dalam ruangan server secara signifikan.

Dengan kata lain, liquid cooling menangkap panas di sumbernya—sebelum panas menyebar ke seluruh server.

Efisiensi Energi: Liquid Cooling Membawa Dampak Besar pada OPEX Data Center

Pendinginan udara membutuhkan energi yang besar untuk menggerakkan CRAC/CRAH unit, AHU, dan fan server internal. Pada data center AI, porsi energi untuk pendinginan bisa mencapai 40–50% dari total konsumsi daya.

Dengan liquid cooling, energi pendinginan dapat turun drastis, karena:

  • tidak ada kebutuhan pendinginan udara masif,

  • fan server menjadi lebih kecil atau bahkan dihilangkan,

  • chilled-water loops dapat bekerja pada suhu lebih tinggi sehingga lebih hemat energi.

Hasilnya adalah PUE (Power Usage Effectiveness) yang lebih rendah dan pengurangan biaya operasional yang signifikan.

Skalabilitas: Jawaban atas Era AI Berdaya Tinggi

Tren data center AI menunjukkan peningkatan densitas rack dari 20 kW menjadi 40–140 kW dalam 3–5 tahun ke depan. Air cooling tidak dapat lagi mengikuti peningkatan tersebut. Liquid cooling, sebaliknya, sangat scalable.

Karena cairan dapat menyerap panas jauh lebih besar, peningkatan densitas server tidak berarti peningkatan besar dalam kapasitas infrastruktur cooling ruangan. Liquid cooling dapat tumbuh seiring kebutuhan AI tanpa melakukan ekspansi fisik besar.

Dampak pada Umur Komponen: Liquid Cooling Mengurangi Kegagalan Hardware

Komponen AI seperti GPU sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Fluktuasi kecil saja dapat memengaruhi performa jangka panjang dan memicu kegagalan.

Liquid cooling memberikan stabilitas termal yang tidak mungkin dicapai oleh udara. Karena panas diserap langsung dari chip sebelum menyebar, suhu komponen dapat dijaga dalam rentang optimal sepanjang waktu. Ini meningkatkan umur server dan menurunkan downtime.

Kesimpulan

Liquid cooling bukan hanya teknologi alternatif, melainkan solusi utama bagi kebutuhan AI modern. Dengan kemampuan menyerap panas yang jauh lebih baik dari udara, liquid cooling mendukung stabilitas server, meningkatkan efisiensi energi, memperpanjang umur hardware, dan membuka jalan bagi densitas data center yang lebih tinggi. Dalam lanskap komputasi masa depan yang penuh dengan AI berdaya besar, liquid cooling adalah pilar utama transformasi infrastruktur digital.