DTC Netconnect logo

Alarm Deindustrialisasi Dini: Manufaktur Tinggal 19,07% PDB, Pekerjaan Formal Kian Menyusut

Data Center Solution

Sep 22, 2026

Dua data struktural muncul hampir bersamaan dan keduanya layak menjadi perhatian pelaku industri teknologi. Pertama, kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto nasional kini hanya bertahan di kisaran 19,07 persen pada 2025 menurut data Badan Pusat Statistik. Kedua, porsi pekerja formal justru menyusut dari sekitar 43,5 persen pada Februari 2020 menjadi 40,58 persen pada Februari 2026, artinya dalam enam tahun terakhir semakin banyak angkatan kerja terserap ke sektor informal. Bagi profesional teknologi informasi, pemilik data center, penyelenggara jasa internet, system integrator, dan konsultan infrastruktur digital, dua angka ini bukan sekadar catatan makroekonomi. Keduanya menandakan pergeseran arah pertumbuhan nasional dari sektor padat karya menuju sektor yang mengandalkan produktivitas dan teknologi, pergeseran yang langsung membentuk permintaan infrastruktur digital dalam beberapa tahun ke depan.

Data Terbaru: Kontribusi Manufaktur Tergerus ke 19,07 Persen PDB

Badan Pusat Statistik mencatat kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional bergerak dari 18,34 persen pada 2022, naik tipis menjadi 18,67 persen pada 2023, kemudian 18,98 persen pada 2024, dan mencapai 19,07 persen pada 2025. Kementerian Perindustrian menekankan bahwa tren ini sebenarnya naik dan menolak narasi deindustrialisasi, dengan alasan konsep serta metode penghitungan PDB industri pengolahan telah berubah sehingga data periode 2005 hingga 2025 tidak bisa dibandingkan secara apel dengan apel.

Sejumlah ekonom melihat dari sudut lain. Target Indonesia Emas 2045 menetapkan kontribusi manufaktur sebesar 28 persen terhadap PDB, sementara realisasi kuartal kedua 2026 hanya sekitar 18,50 persen, sehingga masih ada kesenjangan sekitar 9,5 poin persentase yang harus ditutup dalam waktu kurang dari dua dekade. Pada periode yang sama, industri pengolahan tumbuh 4,52 persen secara tahunan, lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen, sehingga porsi manufaktur terhadap PDB belum membesar meski secara nominal terus tumbuh. Sebagai perbandingan, kontribusi manufaktur Korea Selatan masih di kisaran 27 persen, Jepang sekitar 21 persen, dan Jerman sekitar 18 persen menurut data Bank Dunia.

Sinyal Kedua: Porsi Pekerja Formal Menyusut Menjadi 40,58 Persen

Data ketenagakerjaan memperkuat kekhawatiran tersebut. Pada Februari 2026, jumlah pekerja formal tercatat 59,93 juta orang atau 40,58 persen dari total penduduk bekerja, sementara pekerja informal mencapai 87,74 juta orang atau 59,42 persen. Artinya sekitar enam dari sepuluh orang yang bekerja di Indonesia masih berada di luar hubungan kerja formal, tanpa kontrak kerja tetap, perlindungan ketenagakerjaan, maupun jaminan sosial yang memadai.

Tren ini bukan kejadian sesaat. Porsi pekerja formal sempat naik menjadi 42,20 persen pada Agustus 2025, namun kembali turun pada periode berikutnya. Catatan lain menunjukkan, pada November 2025 terdapat sekitar 62,57 juta pekerja formal atau 42,30 persen dari seluruh pekerja, sedangkan pada Mei 2026 jumlahnya tinggal 60,31 juta orang atau 40,70 persen, berkurang sekitar 2,26 juta orang hanya dalam enam bulan. Pola yang cenderung mengarah turun ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi agregat tidak selalu diikuti penciptaan lapangan kerja berkualitas di sektor formal, termasuk di manufaktur yang secara historis menjadi penyerap tenaga kerja formal terbesar.

Memahami Konsep Deindustrialisasi Dini

Dalam kerangka teori deindustrialisasi Rowthorn dan Ramaswamy, sebuah negara dikatakan mengalami deindustrialisasi ketika rasio PDB industri pengolahannya terhadap PDB nasional terus menurun. Konsep deindustrialisasi dini atau premature deindustrialization, yang dipopulerkan ekonom Dani Rodrik, menggambarkan kondisi ketika sebuah negara kehilangan basis manufakturnya sebelum sempat naik kelas menjadi negara maju, dengan ambang rujukan di bawah 23 persen kontribusi manufaktur terhadap PDB.

Isu ini masih diperdebatkan. Kemenperin menekankan bahwa investasi baru tetap mengalir, dengan 633 perusahaan melaporkan pembangunan fasilitas produksi baru senilai Rp418,62 triliun hingga April 2026 dan potensi serapan 219.684 tenaga kerja. Di sisi lain, penurunan Purchasing Managers Index manufaktur ke level 46,9 pada Juni 2026, dari sebelumnya 50,0, dibaca sejumlah analis sebagai sinyal pelemahan permintaan domestik maupun ekspor yang memperkuat kekhawatiran struktural tersebut.

Mengapa Produktivitas Kini Menjadi Kunci Pertumbuhan

Terlepas dari perdebatan angka, satu benang merah terlihat jelas. Ketika manufaktur tidak lagi tumbuh secepat perekonomian secara keseluruhan, dan penciptaan lapangan kerja formal berjalan lebih lambat dibanding pertumbuhan angkatan kerja, sumber pertumbuhan ekonomi harus bergeser dari sekadar penambahan jumlah pekerja menuju peningkatan produktivitas per pekerja. Setiap sektor, termasuk manufaktur yang tersisa, dituntut menghasilkan nilai tambah lebih besar dengan sumber daya yang relatif tetap.

Peningkatan produktivitas semacam ini hampir selalu bertumpu pada tiga hal, yaitu otomatisasi proses produksi, digitalisasi rantai pasok, dan pemanfaatan data untuk pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat. Ketiganya memerlukan fondasi infrastruktur digital yang andal, mulai dari konektivitas, komputasi, hingga penyimpanan data berskala besar. Di titik inilah kondisi struktural ekonomi nasional bersinggungan langsung dengan lini bisnis penyedia data center, ISP, dan system integrator.

Peluang di Balik Tantangan Struktural bagi Ekosistem Digital

Sementara manufaktur konvensional stagnan, ekonomi digital nasional justru tumbuh pesat dan menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru. Kementerian Komunikasi dan Digital menargetkan kapasitas pusat data nasional melonjak dari 1,47 watt per kapita pada 2025 menjadi 2,81 watt per kapita pada 2026, dan terus meningkat hingga 6,87 watt per kapita pada 2029 sesuai Rencana Strategis Komdigi 2025 sampai 2029.

Riset sekuritas domestik memperkirakan kapasitas IT pusat data Indonesia yang sekitar 580 megawatt pada semester pertama 2026 dapat melonjak menjadi 3,5 gigawatt pada 2030, setara pertumbuhan tahunan majemuk sekitar 56,7 persen dalam empat tahun. Pendorong utamanya adalah kebutuhan komputasi kecerdasan buatan, adopsi layanan cloud oleh korporasi, kebutuhan kedaulatan data, serta limpahan permintaan pusat data dari Singapura dan kawasan Asia Tenggara lainnya. Ketika sektor padat karya kehilangan momentum, sektor padat teknologi seperti data center justru menjadi salah satu penopang pertumbuhan berikutnya.

Langkah Strategis bagi Profesional IT, Pemilik Data Center, ISP, dan System Integrator

Pergeseran struktural ini membuka sejumlah peluang konkret yang layak dipertimbangkan pelaku industri infrastruktur digital.

Pertama, memposisikan layanan sebagai enabler produktivitas manufaktur, bukan sekadar penyedia kapasitas. Perusahaan manufaktur yang ingin bertahan di tengah tekanan kontribusi PDB perlu mempercepat adopsi teknologi Industri 4.0, termasuk sensor Internet of Things, sistem enterprise resource planning berbasis cloud, dan analitik prediktif untuk perawatan mesin. System integrator dan konsultan data center dapat menawarkan solusi yang dikaitkan langsung dengan target efisiensi biaya dan produktivitas, bukan hanya spesifikasi teknis semata.

Kedua, memperluas portofolio layanan menuju edge computing dan konektivitas berkualitas tinggi. Pergeseran tenaga kerja dari sektor formal ke informal turut mendorong pertumbuhan ekonomi platform, seperti transportasi daring dan niaga elektronik, yang membutuhkan latensi rendah hingga ke wilayah nonperkotaan. ISP memiliki peluang memperluas jaringan sekaligus menjual layanan bernilai tambah seperti keamanan siber terkelola.

Ketiga, memperkuat kesiapan sumber daya manusia internal. Ketika pasar tenaga kerja formal menyempit di sektor lain, justru terbuka peluang menyerap talenta terdidik ke sektor teknologi informasi melalui program pelatihan operator data center, teknisi jaringan, dan spesialis keamanan siber, sekaligus membantu memperbaiki kualitas penyerapan tenaga kerja formal secara nasional.

Keempat, menyelaraskan investasi dengan agenda kedaulatan data dan efisiensi energi. Pemerintah mendorong penguatan ekosistem pusat data domestik, sementara kebutuhan energi listrik data center terus membesar seiring pertumbuhan kapasitas. Konsultan dan pemilik data center perlu memasukkan strategi efisiensi energi serta pendinginan generasi baru sebagai bagian dari proposisi nilai kepada klien korporasi dan instansi pemerintah.

Dampak yang Bisa Diharapkan jika Transformasi Ini Dikelola dengan Tepat

Apabila pergeseran dari ekonomi padat karya menuju ekonomi berbasis produktivitas dan digital dikelola secara terarah, sejumlah hasil positif dapat diharapkan. Pertumbuhan sektor digital berpotensi menyerap sebagian tenaga kerja terdidik yang selama ini kesulitan masuk lapangan kerja formal konvensional. Investasi infrastruktur digital dapat mendorong nilai tambah ekonomi baru yang bertahap mengimbangi perlambatan kontribusi manufaktur terhadap PDB. Perusahaan manufaktur yang berhasil mengadopsi otomatisasi dan analitik data berpeluang meningkatkan produktivitas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada penambahan jumlah tenaga kerja, sehingga tetap kompetitif di tengah tekanan biaya dan persaingan global.

Bagi pelaku industri IT, data center, ISP, dan system integrator, hasil akhirnya adalah permintaan jangka panjang yang lebih stabil terhadap layanan infrastruktur digital, asalkan mereka mampu menghubungkan penawaran teknis dengan kebutuhan nyata klien untuk meningkatkan produktivitas di tengah tantangan struktural perekonomian nasional.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan deindustrialisasi dini?
Deindustrialisasi dini adalah kondisi ketika kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB suatu negara mulai menurun sebelum negara tersebut mencapai status negara maju, berbeda dengan deindustrialisasi klasik yang terjadi setelah tahap industrialisasi matang tercapai.

Berapa kontribusi manufaktur terhadap PDB Indonesia pada 2025?
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional tercatat sekitar 19,07 persen pada 2025, meski masih terdapat perdebatan mengenai apakah tren ini menandakan deindustrialisasi atau justru pemulihan bertahap.

Mengapa porsi pekerja formal di Indonesia terus menyusut?
Beberapa faktor yang berkontribusi antara lain pertumbuhan angkatan kerja yang lebih cepat dibanding penciptaan lapangan kerja formal, keterbatasan investasi padat karya, kesenjangan keterampilan tenaga kerja, serta fleksibilitas sektor informal yang lebih mudah dimasuki saat kondisi ekonomi menekan.

Apa hubungan tren deindustrialisasi dengan bisnis data center dan IT?
Ketika sumber pertumbuhan bergeser dari penambahan tenaga kerja menuju peningkatan produktivitas, permintaan terhadap otomatisasi, komputasi awan, dan infrastruktur digital cenderung meningkat, sehingga membuka peluang bagi penyedia data center, ISP, dan system integrator sebagai enabler transformasi tersebut.

Bagaimana pelaku industri IT dapat merespons tren ini secara strategis?
Pelaku industri IT dapat memperkuat posisi sebagai mitra peningkatan produktivitas klien, memperluas layanan edge computing dan keamanan siber, berinvestasi pada efisiensi energi pusat data, serta menyiapkan talenta terampil untuk mengisi kebutuhan sektor digital yang terus tumbuh.

Kesimpulan

Penurunan kontribusi manufaktur ke 19,07 persen PDB dan penyusutan porsi pekerja formal ke 40,58 persen bukan sekadar dua angka statistik yang berdiri sendiri. Keduanya menandai pergeseran struktural yang memaksa perekonomian nasional mencari sumber pertumbuhan baru, dengan produktivitas dan transformasi digital sebagai jalur paling realistis ke depan. Bagi profesional IT, pemilik data center, ISP, system integrator, dan konsultan infrastruktur digital, memahami konteks makroekonomi ini penting bukan hanya untuk membaca arah pasar, tetapi juga untuk merancang strategi bisnis yang selaras dengan kebutuhan nyata perekonomian Indonesia dalam menghadapi tantangan deindustrialisasi dini.

Sumber:

  • Badan Pusat Statistik, bps.go.id
  • Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, kemenperin.go.id
  • CNBC Indonesia, cnbcindonesia.com
  • Kompas.id, kompas.id
  • Kontan.co.id, kontan.co.id
  • Investing.com Indonesia, id.investing.com
  • Suara.com, suara.com
  • Receh.in, receh.in
  • Borneoflash.com, borneoflash.com
  • IDX Channel, idxchannel.com
  • GoodStats, goodstats.id