DTC Netconnect logo

AI Mendorong Permintaan Data Center: Apakah Pasarnya Berkelanjutan?

Data Center Solution

Feb 05, 2026

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong lonjakan kebutuhan infrastruktur digital secara global. Model AI generatif, analitik data skala besar, hingga otomatisasi berbasis machine learning membutuhkan daya komputasi dan penyimpanan yang jauh lebih besar dibandingkan aplikasi digital konvensional. Di balik seluruh proses tersebut, data center berperan sebagai tulang punggung utama.

Di Indonesia, tren ini mulai terlihat jelas. Permintaan terhadap kapasitas data center meningkat seiring dengan adopsi AI oleh perusahaan teknologi, startup, lembaga keuangan, hingga sektor pemerintahan. Banyak pihak memandang AI sebagai katalis pertumbuhan jangka panjang bagi industri data center. Namun, di tengah euforia tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah lonjakan permintaan data center yang didorong oleh AI bersifat berkelanjutan, atau hanya bagian dari siklus hype teknologi?

Artikel ini membahas secara sederhana dan komprehensif bagaimana AI mendorong permintaan data center di Indonesia, peluang yang tercipta, serta risiko yang perlu diantisipasi agar pertumbuhan industri ini tetap sehat dan berkelanjutan.

Mengapa AI Sangat Bergantung pada Data Center?

Teknologi AI modern membutuhkan tiga komponen utama: data dalam jumlah besar, daya komputasi tinggi, dan infrastruktur yang andal. Semua komponen tersebut terpusat di data center. Proses pelatihan model AI, inferensi, penyimpanan data, dan pengelolaan sistem AI skala besar hampir tidak mungkin dilakukan tanpa dukungan data center yang memadai.

Berbeda dengan aplikasi digital tradisional, beban kerja AI bersifat sangat intensif. Penggunaan GPU, konsumsi listrik tinggi, dan kebutuhan pendinginan yang kompleks menjadi karakteristik utama workload AI. Hal ini menjelaskan mengapa adopsi AI hampir selalu diikuti oleh peningkatan permintaan kapasitas data center.

Lonjakan Permintaan Data Center di Era AI

Secara global, pertumbuhan AI telah mendorong ekspansi data center dalam skala besar, terutama hyperscale data center yang melayani kebutuhan cloud dan AI. Di Indonesia, tren serupa mulai berkembang, meskipun dengan karakteristik pasar yang berbeda.

Permintaan data center berbasis AI di Indonesia umumnya datang dari:

  • Penyedia layanan cloud dan platform digital

  • Startup AI dan teknologi berbasis data

  • Sektor keuangan dan fintech

  • Perusahaan besar yang mengadopsi AI secara internal

  • Instansi pemerintah dan BUMN

Permintaan ini tidak hanya terkait kapasitas ruang dan server, tetapi juga spesifikasi teknis seperti ketersediaan listrik besar, konektivitas tinggi, dan standar keamanan data yang ketat.

AI, Cloud, dan Perubahan Pola Konsumsi Infrastruktur

AI tidak berkembang secara terpisah, melainkan sangat terkait dengan cloud computing. Banyak perusahaan memilih mengadopsi AI melalui layanan cloud dibandingkan membangun infrastruktur sendiri. Pola ini mendorong pertumbuhan data center colocation dan hyperscale yang dapat menyediakan kapasitas secara fleksibel.

Namun, ketergantungan pada cloud juga menciptakan dinamika baru. Permintaan data center menjadi sangat sensitif terhadap strategi investasi penyedia cloud global. Ketika ekspansi agresif dilakukan, permintaan melonjak. Sebaliknya, ketika terjadi penyesuaian belanja atau koreksi pasar, pertumbuhan dapat melambat secara signifikan.

Apakah Permintaan Ini Bersifat Berkelanjutan?

Pertanyaan tentang keberlanjutan pasar data center di era AI menjadi sangat relevan, terutama di tengah kekhawatiran terhadap AI Bubble. Tidak semua proyek AI akan berhasil secara komersial, dan tidak semua kebutuhan komputasi akan bertahan dalam jangka panjang.

Dalam jangka pendek, permintaan data center cenderung meningkat karena banyak perusahaan bereksperimen dengan AI. Namun, dalam jangka menengah, pasar kemungkinan akan mengalami seleksi alam. Proyek AI yang tidak memberikan nilai bisnis nyata akan dihentikan, sehingga kebutuhan infrastrukturnya ikut berkurang.

Keberlanjutan pasar data center sangat bergantung pada seberapa jauh AI benar-benar terintegrasi dalam proses bisnis inti, bukan sekadar proyek eksperimen atau tren sementara.

Risiko Overkapasitas Data Center

Salah satu risiko utama dari euforia AI adalah pembangunan data center yang terlalu agresif tanpa perhitungan permintaan riil. Overkapasitas dapat terjadi ketika pasokan data center tumbuh lebih cepat dibandingkan adopsi AI yang berkelanjutan.

Risiko overkapasitas antara lain:

  • Tingkat okupansi rendah

  • Tekanan harga dan margin

  • Persaingan tidak sehat antar operator

  • Penundaan atau pembatalan proyek ekspansi

Bagi investor dan operator data center, memahami siklus teknologi menjadi kunci untuk menghindari risiko ini.

Dampak terhadap Investasi Data Center di Indonesia

AI telah menjadi narasi utama dalam menarik investasi data center ke Indonesia. Investor melihat peluang pertumbuhan jangka panjang seiring dengan meningkatnya digitalisasi ekonomi dan kebutuhan komputasi AI.

Namun, investor yang berorientasi jangka panjang mulai lebih berhati-hati. Fokus investasi bergeser dari sekadar kapasitas fisik ke kualitas infrastruktur, efisiensi energi, dan fleksibilitas desain untuk berbagai jenis workload.

Data center yang dirancang khusus untuk beban kerja AI memiliki peluang lebih besar untuk bertahan, dibandingkan fasilitas generik yang sulit beradaptasi.

Tantangan Energi dan Keberlanjutan

AI membawa tantangan besar dalam hal konsumsi energi. Data center AI membutuhkan daya listrik jauh lebih besar dibandingkan data center konvensional. Di Indonesia, isu ketersediaan dan keandalan listrik menjadi faktor krusial dalam keberlanjutan industri ini.

Tekanan terhadap aspek lingkungan juga semakin meningkat. Pelanggan global dan investor mulai menuntut komitmen terhadap energi terbarukan dan efisiensi operasional. Tanpa strategi keberlanjutan yang jelas, pertumbuhan data center berbasis AI berisiko menghadapi hambatan regulasi dan reputasi.

Implikasi bagi Operator Data Center Lokal

Bagi operator data center lokal di Indonesia, AI menciptakan peluang sekaligus tantangan. Peluang muncul dari meningkatnya permintaan kapasitas dan layanan bernilai tambah. Namun, tantangan muncul dari kebutuhan investasi besar, teknologi baru, dan standar global yang semakin tinggi.

Operator yang mampu memposisikan diri sebagai penyedia infrastruktur AI-ready memiliki keunggulan kompetitif. Sebaliknya, operator yang hanya mengandalkan model bisnis lama berisiko tertinggal.

Peran Regulasi dan Kebijakan Nasional

Keberlanjutan pasar data center AI juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Regulasi terkait perizinan, tata ruang, energi, dan kedaulatan data akan menentukan seberapa cepat dan sehat industri ini tumbuh.

Pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan bahwa pertumbuhan data center tidak hanya didorong oleh hype AI, tetapi juga selaras dengan kepentingan ekonomi nasional, ketahanan energi, dan keberlanjutan lingkungan.

Strategi Membangun Pasar Data Center yang Berkelanjutan

Untuk memastikan keberlanjutan pasar data center di era AI, diperlukan pendekatan yang lebih strategis. Beberapa prinsip kunci meliputi:

  • Fokus pada kebutuhan bisnis nyata, bukan sekadar tren

  • Desain data center yang fleksibel dan modular

  • Investasi pada efisiensi energi dan teknologi hijau

  • Kolaborasi erat dengan penyedia cloud dan pengguna AI

Pendekatan ini membantu mengurangi risiko siklus boom and bust yang sering terjadi dalam industri teknologi.

Kesimpulan

AI telah dan akan terus mendorong permintaan data center, termasuk di Indonesia. Namun, pertumbuhan ini tidak bersifat otomatis berkelanjutan. Di balik peluang besar, terdapat risiko hype, overkapasitas, dan tekanan energi yang perlu dikelola dengan cermat.

Bagi industri data center, tantangan ke depan bukan sekadar membangun lebih banyak fasilitas, melainkan membangun infrastruktur yang relevan, efisien, dan adaptif terhadap kebutuhan AI yang terus berkembang. Dengan strategi yang tepat, data center dapat menjadi fondasi kuat bagi transformasi digital Indonesia, bukan sekadar korban dari siklus hype teknologi.